S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

Ilmu Jiwa Umum


INTELEGENSI DAN BERFIKIR

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

 A. Inteligensi
            Hampir semua orang memiliki pemikiran apa yang diartikan sebagai inteligensi  atau kecerdsan misalnya “kecerdasan”, “kemengertian “, kemampuan untuk berpikir”, “kemampuan untuk menguasai’, “kecemerlangan sejak lahir”, dan sebagainya. Namun berbagai definisi tersebut belum benar-benar memungkinkan kita untuk menentukan apakah, misalnya, suatu perilaku tertentu tergolong perilaku pandai atau tidak pandai.
            Kesulitan timbul karena kita secara salah telah menganggap bahwa kecerdasan atau inteligensi adalah suatu “benda” (Hardy & Heyes, 1988). Misalnya, memiliki IQ yang tinggi” atau “Dia berhasil memasuki perguruan tinggi kerrena pandai”, di sini dianggap bahwa masing-masing pernyataan tersaebut memiliki kuantitas sesuatu yang dinamakan “inteligensi”
B. Berpikir
            Seseorang mungkin berpikir bahwa objek yang ingin kita ketahui sebenarnya sudah ada, sudah tertentu atau (given), sehingga tak diperlukan adanya pemikiran. Yang mesti dilakukan hanyalah sekedar membuka mata kita atau memusatkan perhatian kita terhadap objek tersebut. Kalau ternyata objek yang ingin kita krtahui itu belum tertentu (non-given), kelihatanya berpikir tidak akan pernah mendekatkan kita kepadanya. Namun, semua itu ternyata tidak benar. Dalam kedua hal diatas, kalau kita menyimak pengalaman kita, berpikir ternyata memerankan peranan yang sangat membantu, bahkan sangat menentukan.

1.2 Rumusan Masalah
  A. Inteligensi
1. Pengertian intelegensi dan ciri-ciri perilaku intelegensi
2. hubungan intelegensi dengan kreatifitas
3. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan intelegensi
  B. Berpikir
            1. Pengertian berfikir
            2. Berfikir dan bernalar
            3. Macam-macam berfikir
               a. Berfikir Deduktif
               b. Berfikir Induktif 
               c. Berikir Evaluatif

1.3 Tujuan
            Dari rumusan masalah diatas dapat di ketahui bahwa inteligensi dan berfikir sangatlah penting untuk dipelajari, agar kita dapat:
1.      Mengetahui pengertian dan ciri-ciri inteligensi secara mendalam.
2.      Mengetahui bagaimana hubungan inteligensi dan kreatifitas.
3.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi.
4.      mengetahui pengertian berpikir.
5.      Mengetahui berpikir dan bernalar.
6.      Mengetahui  macam- macam berpikir.

II. INTELEGENSI DAN BERFIKIR

A. Inteligensi

1. Pengertian inteligensi
            Banyak pakar psikologi yang memeberikan definisi Intelegensi.Claparedese dan Stern memberikan definisi intelegensi adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. K. Bluher mendefinisikan intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian. Sedangkan menurut David Wechsler, Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
ssssDari definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan yang menjelaskan ciri-ciri dari intelegensi:
Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rsional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulakan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berfikir rasional itu.
Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.
Dalam psikologi, pengukuran intelegensi dilakukan dengan menggunakan alat-alat psikodiagnostik atau yang dikenal dengan istilah Psikotest. Hasil pengukuran intelegensi biasanya dinyatakan dalam satuan ukuran tertentu yang dapat menyataakan tinggi rendahnya intelegensi yang diukur, yaitu IQ (Intellegence Quotioent).
Secara umum kita dapat mengatakan bahwa intelegensi tidak hanya merupakan suatu kemampuan untuk memecahkan berbagai persolan dalam bentuk simbol-simbol (seperti dalam matematika), tetapi jauh lebih luas menyangkut kapasitas untuk belajar kemampuan untuk menggunakan pengalaman dalam memecahkan berbagai persoalan, serta kemampuan untuk mencari berbagai alternatif.
Contoh perbuatan yang menyangkut intelegensi: Jika seseorang mengamati taman bunga, ini adalah persepsi. Tetapi kalau ia mengamati bunga-bunga yang sejenis atau mulai menghitung, manganalisa, membandingkan dari berbagai macam bunga yang ada dalam taman tersebut, maka perbuatanya sudah merupakan perbuatan yang berintelegensi.
2. Hubungan intelegensi denagan kreatifitas             
         Apa itu kreatifitas? Sebetulnya kreatifitas merupakan suatu bidang kajian yang sulit, yang menimbulkan perbedaan pandangan. Biasanya, perbedaan itu terletak pada definisi kreatifitas, kriteria perilaku kreatifitas, proses kreatif, hubungan kreatifitas dan intelegensi, karakteristik orang kreatif, kolerat-kolerat kreatifitas, dan upaya dan upaya untuk mengembangkan kreatifitas. Dalam berbagai kajian kreatifitas, istilah ini acap kali didefinisikan secara berbeda-beda. Sedemikian definisi tersebut, sehingga pegertian kreatifitas tergantung pada cara orang mendefinisikannya- “creativity is a matter of definition” tidak ada satupun  definisi yang dapat mewakili pemahaman yang beragam tenteng kreatifitas. Hal ini disebabkan dua alasan. Pertama, sebagai suatu “konstruksi hipotesis”, kreatifitas merupakakn ranah psikologis yang komplek dan multidimensional, yang mengandung berbagai tafsiran beragam. Kedua, definisi kreatifitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, bergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi (Supriadi, 1999:6).
         Dalam suatu penelitian yang telah dilakukandi indonesia terhadap sejumlah ahli psikologi dalam rangka mengetahui ciri-ciri manakah pendapat mereka, mereka paling
Mencerminkan kepribadian kreatif, diperoloeh urutan  urutan ciri-ciri sebagai berikut (munandar, 1977):
a. mempunyai daya imajinasi yang kuat
b.mempunyai inisiatif
c. mempunyai minat yang kuat
d.            bebas berfikir (tidak kaku atau terhambat)
e. bersifat ingin tahu
f. selalu ingin mendapat pengalaman-pengalaman baru
g.percaya pada diri sendiri
h.penuh semangat(energitic)
i.  berani mengambil resiko (tidak takut membuat kesalahan)
j.  berani dalam pendapat dan keyakinan (tidak ragu-ragu dalam menyatakan pendapat meskipun mendapat kritik dan berani mempertahankan pendapat yang menjadi keyakinanannya)
Dalam beberapa tahun terakir, ada tipik baru yang mengundang banyak tangapan dan perdebatan  yaitu hubungan kreatifitas dan intelegensi Adakah hubungan antara keduanyan?
            Menurut dedi supriadi, kreatifitas dan intelegensi mempunyai perbedaan (supriadi, 1994). Jika mengunakan teory  Guilford mengenai structure of intellec (SOI), intelegensi, menurut supriadi, lebih menyangkut pada cara berfikir konvergen (memusat), sedangkan kreatifitas berkenaan denagn cara berfikir divergen (menyebar). Penelitian torannce (1965) mengungkap kan bahwa anak-anak yang tinggi kreatifitasnya mempunyai taraf intelegensi (IQ) dibawah rata-rata IQ kelompok sebayanya. Dalam konteks keberbakatan (giftedness), ia menyatakan bahwa IQ tidak dapat dijadikan kriteria tunggal untuk mendefinisikan orang-ornag yang berbakat. Jika hanya IQ yang digunakan sebagai kriteria,  sekitar 70% orang yang tinggi kreatifitasnya akan tereliminasi dari seleksi.
            Berbagai studi lain melaporkan hasil yang berbeda-beda mengenai hubungan kreatifitas dan intelegensi. Pada intinya, penelitian itu membuktikan bahwa sampai tingkat tertentu hubungan antara intelegensi dan kreatifitas. Namun, menurut Getzels & Jakson, pada tingkat IQ di atas 120, hampir tidak ada hiubungan diantara keduanya. Artinya, arang yang IQ nya tinggi, mungkin kreatifitasnya rendah, atau sebaliknya. Selanjutnya, kedua penelitian itu membuat empat kelompok oarang yaitu:
1. kreatifitas rendah, intelegensi rendah
2. kreatifitas tinggi, intelegensi tinggi
3. kreatifitas rendah intelegensi tinggi
4. kreatifitas tinggi, intelegensi rendah
            Dengan demikian, kreatifitas dan intelegensi merupakan dua dominan kecakapan manusia yang berbeda. Dalam teori yang berlaku dewasa ini, baik intelegensi maupun kreatifitas, dijadikan kriteria untuk menentukan bakat seseorang.


3. Faktor-faktor yang berpengaruh pada intelegensi
     a. Pengaruh faktor bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ), orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 – + 0,20 ).
b. Pengaruh faktor lingkungan
Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).


c. Stabilitas intelegensi dan IQ                       
Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung perkembangan organik otak.
d. Pengaruh faktor kematangan                                                         
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.
e. Pengaruh faktor pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
f. Minat dan pembawaan yang khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
g. Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.
Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang individu, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.
B. Bepikir

1. Pengertian berpikir
Menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp (1990 : 43), berpikir adalah suatu keaktipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita kehendakaki. Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti : anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Sebagai contoh, kita libat sebuah jeruk, Jeruk itu sebuah benda yang konkret. Jika kita pandang hanya warna kulit jeruk itu, maka warna isi kita lepaskan dari semua yang ada pada jeruk itu (bentuknya, rasanya, baunya, dan beratnya). Mula-mula warna itu hanya pada benda konkret yang kita hadapi dan merupakan bagian dari keutuhan yang tidak dapat kita lepaskan. Sekarang warna itu sendiri kita pandang dan kita pisahkan dari keseluruhan jeruk itu.
Menurut Drs. M. Ngalim Purwanto, Mp (1990 : 44), Pengertian berpikir dalam arti luas adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi. Dalam arti sempit berpikir adalah meletakkan atau mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi.
Berpikir erat hubungannya dengan daya-daya jiwa yang lain, seperti tanggapan, ingatan, pengertian dan perasaan. Tanggapan memegang peranan penting dalam berpikir, meskipun adalakalanya dapat mengganggu jalannya pikiran. Ingatan merupakan syarat-syarat yang harus ada dalam berpikir, karena memberikan pengalaman-pengalaman dan pengalaman yang telah lampau.
Pengertian meskipun merupakan hasil berpikir dapat memberi bantuan yang besar pula dalam suatu proses berpikir. Perasaan selalu menyertai pula, ia merupakan dasar yang mendukung suasana hati, atau sebagai pemberi keterangan dan ketekunan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.
Menurut Psikologi Gestalt, berpikir merupakan keaktipan psikis yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indra kita. Proses berpikir ini dilukiskan sebagai berikut : Jika dalam diri seseorang timbul suatu masalah yang harus dipecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema / bagan yang masih agak kabur-kabur. Bagan itu dipecahkan dan dibanding-bandingkan dengan seksama.
Berfikir adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir bertujuan untuk mem¬bentuk pengertian, membentuk pendapat, dan menarik kesimpulan.

2. Berfikir dan bernalar
            Proses berpikir secara rasional disebut penalaran, maka
berpikir secara rasional dapat disebut berpikir secara nalar
atau secara logis
• Pengetahuan yang diperoleh tanpa proses berpikir aktis
atau pasif adalah pengetahuan intuitif
• Penalaran hanya terkait dengan kegiatan berpikir sadar
dan aktif, dan mempunyai karakteristik tertentu untuk
menemukan kebenaran
• Penalaran adalah proses berpikir logis yang menganut
logika tertentu
• Untuk dapat menarik konklusi yang tepat, diperlukan
kemampuan menalar.
• Kemampuan menalar adalah kemampuan untuk menarik
konklusi yang tepat dari bukti- bukti yang ada, dan menurut
aturan- aturan tertentu.
Berfikir dan bernalar harus benar untuk
mendapatkan kesimpulan yang absah.
• Manusia mampu mengembangkan pengetahuan
karena mempunyai bahasa dan kemampuan
menalar.
• Untuk dapat menarik konklusi yang tepat,
diperlukan kemampuan menalar.
• Kemampuan menalar adalah kemampuan untuk
menarik konklusi yang tepat dari bukti- bukti
yang ada, dan menurut aturan- aturan tertentu.
Penalaran merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia  , karena
dengan adanya penalaran pada manusia, maka manusia dapat seperti sekarang ini dan menjadi penguasa di  bumi , tempatnya hidup .
 Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan
pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaannya

3.  Macam macam berfikir
            Dalam berpikir orang mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuannya, sehingga pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dapat dikuasai atau dipahami. Dalam hal ini orang dapat mendekati masalah ini dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut.

a. Berfikir  deduktif
Sebaliknya dari berpikir induktif, maka berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum.
Dari situ ia menerapkannya kepada fenomena-fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan yang khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
Contoh :
Manusia semua akan mati (kesimpulan umum)
Jamilah adalah manusia (kesimpulan khusus)
Jamilah akan mati (kesimpulan deduksi)         

b. Berfikir induktif
Berpikir Induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena. Beberapa sebagai penjelasan : Seorang ahli psikologi mengadakan penyelidikan dengan observasi bayi A setelah melahirkan segera menangis, bayi B juga begitu, bayi C,D,E,F disebut demikian pula.
Kesimpulan : Semua bayi yang normal segera menangis pada waktu dilahirkan, seorang guru melakukan eksperimen-esperimen menanam biji-bijian bersama murid-muridnya, jagung ditanam tumbuh keatas, kacang tanah tumbuh keatas juga. Kesimpulan : “Semua batang tanaman tumbuhnya keatas mencari sinar matahari”
Tepat atau tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama tergantung pada representatif, dan makin besar pula taraf dapat dipercaya (validitas) dari kesimpulan itu ; dan sebaliknya. Taraf validitas kebenaran kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena-fenomena diselidiki.

c. Berfikir evaluatif
            Berfikir evaluatif  ialah berfikir kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berfikir evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainyan menurut kriteria tertentu (Rakhmat, 1994).
            Perlu diigat bahwa jalannya berfikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam faktor. Suatu masalah yang sama, munkin menimbulkan pemecahan yang berbeda-beda pula. Adapun faktor-faktor yg mempengaruhi jalannya berfikir itu, antara lain, yaitu bagaimana  seseorang melihat atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman-pengalaman orang tersebut, serta bagaimana intelegensi orag tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih Atas Partisipasinya