S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

Sarana Berfikir Ilmiah


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan untuk mengambil jalan melingkar untuk mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari objek yang diinginkannya atau membuang benda yang menghalanginya.
Dalam melakukan kegiatan ilmiah secara baik, diperlukan sarana berfikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu dalam kegiatan ilmiah dengan harapan kita dapat melakukan penelaahan ilmiah secara baik dan benar.
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang  diatas maka rumusan masalahnya adalah :
1.          Apakah yang dimaksud sarana berpikir ilmiah?
2.          Apa sajakah sarana-sarana berpikir ilmiah?
1.3  Tujuan
Dari rumusan masalah diatas maka tujuannya adalah :
1.      Menjelaskan apakah yang dimaksud sarana berpikir ilmiah.
2.      Menjelaskan apa saja sarana-sarana berpikir ilmiah.







PEMBAHASAN
Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang menbantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Karena itu, sebelum mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya. Sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tersebut. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita merupakan bidang studi tersendiri. Artinya, kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua hal. Pertama, sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana  ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang di dapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara cirri-ciri ilmu adalah penggunaan deduksi dan induksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu di maksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini, sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Atau secara lebih sederhana, sarana berfikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik.jelaslah sekarang kiranya mengapa sarana berfikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa logika, matematika dan statistik. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berfikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berfikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang paling dalam berfikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan yang paling dalam berfikir induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan proses berfikir ilmiah tersebut.
Berdasarkan pemikiran ini maka tidak sukar untuk dimengerti mengapa murtu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan sekarang sarana berfikir ilmiahnya  memang kurang dikuasai, bagaimana mungkin seorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat. Demikian juga bagaimana seseorang bisa melakukan generiksasi tanpa mengetahui statistika. Sering kita melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita, atau bahkan kompensasi, seperti dikatakan kemeney, dengan menggunakan kata-kata muluk untuk menutup ketidak tahuan[1].    
Sarana-sarana Berpikir Ilmiah
                        Bahasa
Manusia dapat berfikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Demikian juga tanpa bahasa maka kita tidak dapat mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain. Binatang tidak diberkahi dengan bahasa yang sempurna sebagaimana kita miliki, oleh sebab itu maka binatang tidak dapat berfikir dengan baik dan mengakumulasikan pengetahuannya lewat proses komunikasi seperti kita mengembangkan ilmu.
Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai suatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada ditempat dimana kegiatan berfikir itu dilakukan. Binatang mampu berkomunikasi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama objek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual waktu proses komunikasi itu dilakukan. Tanpa kehadiran objek secara faktual maka komunikasi tidak bisa dilaksanakan.
Dalam komunikasi ilmiah cebenarnya proses komunikasai itu harus terbebas dari unsur emotif, agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang disampaikna.
Komunikasi ilmiah masyarakat butuh komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Agar komunikasi ilmiah ini berjalan dengan baik maka bahasa yang dipergunakan harus reproduktif. Misalkan bila si pengirim komunikasi menyampaikan
Suatu informasi katakanlah berupa A, maka si penerima komunikasi harus menerima informasi yang berupa A pula. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah salah informasi. Karena apabila informasi tidak sesuai maka akan menghasilkan proses  berfikir yang tidak sesuai pula. Oleh sebab itu proses komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan objektif yakni terbebas dari unsur-unsur emotif.
Berbahasa dengan jelas, artinya bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang dipergunakan diungkapkan secara tersurat (explisit) untuk mencegah pemberian makna yang lain. Oleh sebab itu maka dalam komunikasi ilmiah kita sering sekali mendapat definisi dari kata yang dipergunakan. Umpamanya jika dalam sebuah komunikasi ilmiah kita dapat mempergunakan seperti kata-kata “epistimologi” maka kita harus menjelaskan lebih lanjut apa yang kita maksudkan dengan kata-kata itu. Hal ini harus kita lakukan untuk mencegah si penerima komunikasi memberi makna lain yang berbeda dengan makna yang kita maksudkan. Tentu saja kata-kata yang sudah jelas dan kecil kemungkinannya untuk disalah artikan dan tidak lagi membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kimpulan pernyataan yang mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut. Untuk mampu mengkomunikasikan suatu pertanyaan dengan jelas maka seseorang harus menguasai tata bahasa yang baik. “Tata Bahasa” menurut Charlton Laird merupakan alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari fikiran untuk mengungkapkan arti dan emosi dengan mempergunakan aturan-aturan tertentu[2].
Karya ilmiah juga mempunyai gaya penulisan yang pada hakikatnya merupakan usaha untuk mencoba menghindari kecenderungan yang bersifat emosional bagi kegiatan seni namun merupakan kerugian bagi kegiatan ilmiah. Oleh sebab itu gaya penulisan ilmiah dimana tercakup di dalamnya penggunaan tata bahasa dan penggunaan kata-kata, harus diusahakan sedemikian mungkin untuk menekan unsure-unsur emotif ini seminimal mungkin. Disamping itu karya ilmiah mempunyai format-format penulisan tertentu seperti cara meletakkan catatan kaki atau menyertakan foftor bacaan. Kesemuanya ini harus dikuasai dengan baik oleh seorang ilmuwan agar dapat berkomunikasi dengan sesame kaum ilmuwan secara benar.

                        Matematika
Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numeric yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan bahasa verbal bila kita membandingkan dua objek yang berlainan umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan gajah lebih besar dari semut. Kalau kita ingin menelusur lebih lanjut berapa besar gajah disbandingkan dengan semut maka kita mengalami kesukaran dalam mengemukakan hubungan itu. Kemudian jika sekiranya kita ingin mengetahui secara eksak berapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut maka dengan bahasa verbal kita tidak dapat mengatakan apa-apa
Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga maka penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Kita bisa mengetahui bahwa logam kalau dipanaskan akan memanjang. Namun pengertian kita hanya sampai disitu. Kita tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa besar pertambahan panjangnya. Hal ini menyebabkan penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh bahasa verbal tidak bersifat eksak, menyebabkan daya prediktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat.
Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran. Lewat pengukuran, maka kita dapat mengetahui dengan tepat berapa panjang sebatang logam dan berapa pertambahan panjangnya kalau logam itu dipanaskan. Dengan mengetahu hal ini maka pernyataan ilmiah yang berupa penyataaan kualitatif seperti “sebatang logam kalau dipanaskan akan memanjang” dapat diganti dengan penyataan matematika yang lebih eksak umpamanya: P1 = P0 (1 + nt) dimana P1 merupakan panjang logam pada temperature t, P0 merupakan panjang logam tersebut pada temperature nol dan n merupakan koefisien pemuai logam tersebut.
Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya produktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kulitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperative bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang lebih tepat dan cermat dari ilmu. Beberapa disiplin keilmuan, terutama ilmu social, agak mengalami kesukaran dalam perkembangan yang bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran. Kesukaran ini secara bertahap telah mulai dapat diatasi dan akhir-akhir ini kita melihat perkembangan yang menggembirakan, dimana ilmu-ilmu social telah mulai memasuki tahap yang bersifat kuantitatif. Pada dasarnya matematika diperlukan oleh semua disiplin keilmuan untuk meningkatkan daya prediksi dan kontrol dari ilmu tersebut.
Matematika adalah sarana berpikir deduktif misalnya adalah bahwa kita tahu jumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah 180 derajat. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitiga dan kemudian menjumlahkannya. Dipihak lain, pengetahuan ini bisa di dapatkan secara deduktif dengan mempergunakan matematika. Seperti diketahui berpikit deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Untuk menghitung jumlah sudut dalam segitiga tersebut kita mndasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka sudut-sudut yang dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Premis yang kedua adalah bahwa jumlah sudut yang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 18 derajat.
Disamping sebagai bahasa, matematika juga berfungsi sebagai alat berpikir. Ilmu merupakan pengetahuan yang mendasarkan kepada analisis dalam menarik kesimpulan menurut suatu pola piker logis[3]. Berdasarkan perkembangan maka masalah yang dihadapi logika makin lama makin rumit dan membutuhkan struktur analisis yang lebih sempurna. Dalam perspektif inilah maka logika berkembang menjadi matematika. Seperti disimpulkan Bertrand Rusell “Matematika adalah masa kedewasaan logika, sedangkan logika adalah masa kecil matematika”[4].
Matematika pada garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Banyak orang berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat rasional yang kebenarannya tidak kepada pembuktian secara empiris. Perhitungan matematika bukanlah suatu eksperimen, kata Witgestein, sebuah pernyataan matematika tidaklah mengekspresikan produk pikiran (tentang objek factual)[5]. Selanjutnya Wegstein membuktikan bahwa 2 x 2 = 4 adalah sebuah proses deduktif.
Memang menurut akal sehari-hari, kebenaran matematika tidak ditentukan oleh pembuktian secara empiris, melainkan kepada proses penalaran deduktif. Jika seseorang memasukkan  bebek dua ekor pada pagi hari, kemudian dia memasukkan bebek dua ekor lagi pada siang hari, maka pada malam hari dia akan mengharapkan jumlah bebek semuanya menjadi empat ekor. Sekiranya pada malam hari dia melakukan verifikasi dan jumlahnya hanya tiga ekor, segera dia menyimpulkan ada sesuatu yang salah secara empiris dibandingkan dengan penalaran rasionalnya, sebab apapun yang terjadi jumlahnya harus empat ekor, kecuali kalau ada pencuri atau bebeknya lagi bersembunyi.
Disamping sarana berpikir deduktif yang merupakan aspek estetik, matematika juga merupakan kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti maka harus bersandar pada matematika. Dari mempelajari bintang dilangit sampai mengukur panjang papan untuk membuat rumah orang memerlukan pengukuran dan penghitungan matematika. Dalam perkembangannya maka kedua aspek estetik dan praktis dari matematika ini silih berganti mendapatkan perhatian terutama bila dikaitkan dengan kegiatan pendidikan.
Matematika dalam hubungannya dengan komunikasi ilmiah mempunyai peranan ganda, yakni sebagai ratu sekaligus pelayanan ilmu. Di satu pihak, sebagai ratu matematika merupakan bentuk tertinggi dari logika. Sedangkan dilain pihak, sebagai pelayan metematika memberikan bukan saja sistem pengorganisasian ilmu yang bersifat logis namun juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk model matematika. Matematika bukan saja member informasi jelas dan tepat tapi juga singkat. Suatu rumus yang jika ditulis dengan bahasa verbal memerlukan kalimat yang banyak sekali, dimana makin banyak kata yang kita pakai semakin besar peluang salah informasi atau interpretasi.
                        Statistik
Statistik relatif lebih mudah dibandingkan dengan matematika, berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangan ini. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survey maupun eksperimen, dilakukan dengan lebih cermat dan teliti mempergunakan teknik-teknik statistika yang perkembangannya sesuai dengan kebutuhan. Di Indonesia sendiri kegiatan yang sangat meningkat dalam bidang penelitian, baik merupakan kegiatan akademik maupun untuk pengambilan keputusan, memberikan momentum yang baik untuk pendidikan statistika. Pengajaran filsafat ilmu di beberapa perguruan tinggi terutama pada pendidikan pasca sarjana, memberi landasan yang lebih jelas tentang hakikat dan peranan statistika. Dengan memasyarakatnya berpikir ilmiah, mungkin tidak terlalu berlebihan apa yang dikatakan oleh H.G Wells bahwa suatu hari berpikir statistic akan merupakan keharusan bagi manusia.
Pengujian mengharuskan  kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya jika kita ingin mengetahui berapatinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus anak umur 10 tahun ditempat itu. Jadi dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di pihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan mempergunakan deduktif, kedua penarikan kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampur adukkan. Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan sedangkan logika induktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
Penarikan kesimpulan  induktif pada hakikatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Dalam penalaran deduktif maka kesimpulan yang ditarik adalah benar sekiranya premis-premis yang dipergunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Sedangkan dalam penlran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah maka kesimpulan itu belum tentu benar. Yang dapat kita katakana adalah bahwa kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluang itu dengan eksak[6].
Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai pada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia, umpamanya, lalu bagaimana caranya kita mengumpulkan data untuk sampai pada kesimpulan tersebut? Tentu saja dalam hal ini maka hal yang paling logis adalah dengan jalan melakukan pengukuran tinggi badan seluruh anak umur 10 tahun di Indonesia. Pengumpulan data seperti ini tak diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negeri kita. Namun kegiatan seperti ini menghadapkan kita kepada masalah lain yang tak kurang rumitnya, yakni kenyataan bahwa dalam pelaksanaannya kegiatan seperti ini membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang banyak sekali. Sensus juga mempunyai arti sangat penting dalam sejarah kemanusiaan, namun mungkin kurang dikenal sebagai kejadian yang mempunyai arti dalam perkembangan statistika adalah sensus penduduk yang dilakukan penguasa Romawi, yang menyebabkan Yusuf dan Maria harus pindah ke tempat kelahirannya. Dapat dibayangkan betapa kegiatan pengujian hipotesis akan mengalami hambatan yang sukar diatasi sekiranya proses pengujian tersebut harus dilakukan dengan pengumpulan data seperti itu. Hal ini akan menjadikan kegiatan ilmiah menjadi suatu yang sangat mahal yang mengakibatkan penghalang bagi kemajuan bidang keilmuan.
Untunglah dalam hal ini statistika memberikan sebuah jalan keluar. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Jadi untuk mengetahui tinggi rata-rata anak umur 10 tahun kita tidak melakukan pengukuran terhadap seluruh anak yang berumur tersebut di seluruh Indonesia, namun cukup hanya dengan jalan melakukan pengukuran terhadap sebagian anak saja. Tentu saja penarikan kesimpulan seperti ini, yang ditarik berdasarkan contoh dari populasi yang bersangkutan, tidak selalu akan seteliti kesimpulan yang ditarik berdasarkan sensus yakni dengan jalan mengamati keseluruhan populasi tersebut. Namun bukanlah dalam menelaah keilmuan yang bersifat pragmatis dimana teori keilmuan tidak ditujukan ke arah penguasaan pengetahuan yang bersifat absolute, sesuatu yang tidak mutlak teliti namun dapat dipertanggung jawabkan adalah sudah memenuhi syarat.
Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya.
Menurut bidang pengkajian Statistika dapat kita bedakan sebagai Statistika Teoritis dan Statistika Terapan. Statistika Teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar teori Statistika, dimulai dari teori penarikan. Contoh : Distribusi, penaksiran dan peluang. Statistika Terapan merupakan penggunaan Statistika Teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempai penerapannya. Disini diterapkan atau dipraktekkan teknik-teknik penarikan kesimpulan seperti bagaimana cara mengambil sebagian populasi, sehingga contoh bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat peluang, bagaimana cara menghitung harga rata-rata dsb.
Kegiatan Ilmiah memerlukan penelitian untuk maengkaji hipotesis yang diajukan. Sehingga contoh bahwa orang muda suka music pop, maka kita harus melakukan pengujian untuk memperlihatkan bahwa hipotesis itu benar, dengan jalan pengumpulan fakta. Namun tentu saja kita tidak bisa mengadakan wawancara dengan seluruh orang muda dan untuk itu statistika memberikan jalan bagaimana memilih sebagian dari orang muda tersebut sehingga contoh representif dan objektif dari keseluruhan populasi orang muda tersebut.


[1] . John G, Kemeney, A Philosopher looks at science (New York : Van nostrand, 1959), hlm.10.
[2] .Charton Laird, The Miracle Of language (New York:1953) hlm.232.
[3] Ibid. hlm.135.
[4] Bertrand Rusell, On the philosophy of science.1965.hlm.13.
[5] Howard “Comincation of Scientifis though”. 1962.hlm.199.
[6] Rudolf. An Introduction Philosophy Science.1966.hlm.20.

1 komentar:

  1. Pengetahuan ilmiah yang bagus |

    Riads Solution Statistics Research & Information Technology Consulting | Terbuka Diskusi dan Konsultasi Tentang Riset Ilmiah & IT company profile | www.riadsolution.com

    BalasHapus

Terima kasih Atas Partisipasinya