S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

Aliran Mu'tazilah

BAB I
PENDAHULUAN

Pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah sehingga banyak ajaran Islam yang tiddak mereka akui karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu'tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya.
Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran mu'tazilah dengan nama-nama yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya dengan Aqlaniyah... Modernisasi pemikiran. Westernasi dan sekulerisme serta nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini. Oleh karena itu perlu dibahas asal pemikiran ini agar diketahui penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam pembahasan kali ini dibagi menjadi beberapa pokok pembahasan

a. Asal usul Mu’tazilah

Mu’tazilah yang berasal dari bahasa Arab اعتزل)) berarti : menjauhkan, mengenyampingkan atau memisahkan.[1]
Sedang penamaan Mu’tazilah yang menggambarkan asal usulnya terdapat perbedaan pendapat :
Al Syahrastani menjelaskan bahwa nama Mu’tazilah didasarkan pada peristiwa Washil bin ‘ Atho dengan teman-temannya ‘Amr bin Ubaid. Keduanya dikenal sebagai pengikut pengajian Hasan Basri yang setia, tetapi pada suatu hari datang salah seorang menanyakan tentang kedudukan pelaku dosa besar. Hasan Basri baru berpikir, tiba-tiba Washil bin ‘Atho mengemukakan pandangannya bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak kafir dan tidak pula mukmin, melainkan berada di antara keduanya. Setelah itu ia meninggalkan pengajian, maka Hasan Basri mengatakan bahwa Washil bin ‘Atho menjauhkan diri dari kita (I’tazala) dan pengikutnya dinamakan Mu’tazilah.[2]
Al Baghdadi menambahkan bahwa bukan masalah dosa besar saja Mu’tazilah berbeda pendapat dengan gurunya, tetapi juga masalah qadar, sehingga memisahkan diri dan membentuk pengajian sendiri.[3] Al Mas’udi mengemukakan pendapat yang sama bahwa mereka disebut kaum Mu’tazilah karena pendapatnya yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar berada pada posisi di antara mukmin dan kafir (al-manzilat baina manzilatain).[4] Kemudian Jarallah memperkuat dengan mengemukakan bahwa pendapat Mu’tazilah tentang pelaku dosa besar bukan kafir mutlak dan bukan pula mukmin mutlak, melainkan fasik.[5]
Ahmad Amin mengemukakan:
a. Dikatakan Mu’tazilah didasarkan pada peristiwa Washil bin ‘Atho dengan gurunya
b. Disebut Mu’tazilah karena mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang-orang terdahulu mengenai kedudukan pelaku dosa besar
c. Nama Mu’tazilah diberikan kepadanya karena pendapatnya yang keluar dari apa yang dianut oleh sebagian besar kaum muslimin tentang pelaku dosa besar
d. Nama Mu’tazilah sebenarnya sudah dikenal beberapa tahun sebelum peristiwa Washil bin ‘Atho dengan gurunya Hasan Basri. Nama tersebut diberikan kepada golongan yang tidak mau terlibat pada pertikaian antara kelompok Usman bin Affan dengan kelompok Ali bin Abi Thalib.[6]
Tampaknya Ahmad Amin membagi dua kelompok aliran Mu’tazilah, kelompok pertama bercorak teologi, yakni terlibat dalam pembahasan mengenai pokok-pokok ajaran agama berdasarkan pemikiran, sementara kelompok kedua bercorak politik. Meskipun demikian, baik kelompok pertama maupun kelompok kedua berarti memisahkan diri karena tidak termasuk dalam kelompok yang ada pada masanya.
Pandangan Ahmad Amin tentang kelompok Mu’tazilah kedua ada kemiripan dengan pandangan Orientalis, yaitu Nallino, seperti yang dikutip oleh Harun Nasution bahwa Mu’tazilah tidak mengandung pengertian memisahkan diri dari umat Islam lainnya, tetapi merupakan golongan yang mempunyai pandangan yang bersifat netral antara pandangan Khawarij dan Murji’ah. Di samping itu, antara kelompok Mu’tazilah pertama dengan kedua merupakan satu rangkaian.[7]
Berbeda dengan pandangan Goldziher yang dikutip oleh Fazlur Rahman bahwa Mu’tazilah tidak suka terlibat dalam pertentangan apapun, sehingga nama Mu’tazilah berasal dari bahasa Arab berarti absen dari, menjadi netralis, berada di sisi, menunjukkan kepada sifat mereka yang salah dan tidak suka ikut campur dalam pertentangan pendapat.[8]
Golongan lain menamakan Mu’tazilah dengan Mu’attilah karena menafikan sifat-sifat Tuhan, tetapi mereka sendiri menamakan dirinya dengan Ahli Keadilan dan Keesaan ( Ahlu al Adl wa Al Tauhid).[9]

b. Corak Pemikirannya

Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai golongan tradisional dalam Islam, karena di antara yang ada, dialah yang paling banyak memberi fungsi terhadap akal dalam membahas masalah keagamaan. Namun demikian, untuk mengetahui secara jelas corak pemikiran aliran Mu’tazilah, maka yang menjadi pembahasan utama dalam persoalan tersebut adalah peranan akal dalam kehidupan umat manusia, karena manusia dalam hidupnya di beri dua hal yang menjadi pedoman baginya agar tidak sesat, yaitu akal dan wahyu.
Jika diperhatikan pembahasan tentang fungsi akal dan wahyu dalam kehidupan beragama di kalangan Mutakallimin, senantiasa dihubungkan dengan 4 masalah pokok, yaitu: 1) Mengetahui Tuhan, 2) Mengetahui kewajiban Tuhan, 3) Mengetahui baik dan buruk, 4) Mengetahui kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk.[10]
Aliran Mu’tazilah dalam melihat masalah tersebut mengatakan bahwa keempat masalah di atas bisa diketahui akal.[11] Akal dapat dijadikan pedoman dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu sebelum datangnya wahyu, sehingga wajib untuk melakukan penalaran yang mapan agar dapat mengantar manusia untuk mengetahui kewajiban-kewajibannya.[12] Karena itu, akal yang sudah sempurna merupakan sumber pengetahuan yang dapat mengetahui apa yang mendatangkan mudharat dan dosa.[13]
Akal yang sudah sempurna itu dimiliki oleh orang yang sudah mukallaf, sehingga hanya dialah yang dapat mengetahui 4 masalah tersebut di atas.
Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa semua masalah secara rinci dapat diketahui oleh akal, tetapi ada hal-hal tertentu dimana akal sangat membutuhkan penjelasan wahyu karena akal mempunyai keterbatasan, yaitu dalam perincian terhadap baik dan buruk serta kewajiban umat manusia.[14]
Al Jabbar menjelaskan bahwa akal hanya dapat mengetahui sebahagian yang baik dan buruk serta kewajiban, sehingga wahyulah yang menyempurnakan pengetahuan akal tersebut, termasuk menjelaskan cara berterima kasih kepada Tuhan, seperti shalat, zakat, dan puasa.[15] Karena itu, ada pengetahuan baik yang diketahui oleh akal dan ada yang diketahui oleh wahyu, begitu pula dalam hal yang buruk.
Fungsi lain dari wahyu dalam pandangan aliran Mu’tazilah dikemukakan oleh al Syahrastaniy yaitu mengingatkan manusia tentang kewajibannya dan mempercepat untuk mengetahuinya.[16] Di sini dapat dipahami bahwa jika melalui akal memerlukan waktu yang lama karena harus ada pengamatan, kemudian dipikirkan lalu mengambil keputusan.
Oleh Harun Nasution dikatakan bahwa fungsi wahyu terhadap akal sebagai informasi dan konfirmasi.[17] Memberikan informasi terhadap apa yang belum diketahui oleh akal di samping mengkonfirmasikan apa yang telah diketahui akal.
Aboe Bakar Atjeh menjelaskan tentang fungsi akal bagi aliran Mu’tazilah yaitu akal dapat menjangkau segala persoalan kehidupan manusia, sehingga apa yang dihasilkan oleh akal harus di terima. Jika terjadi pertentangan antara hasil akal dengan ketentuan wahyu, misalnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat, maka harus di ta’wilkan agar sesuai dengan ketentuan akal.[18] Meskipun demikian, aliran Mu’tazilah tidak meninggalkan aturan.


c. Mu’tazilah dan peristiwa Mihnah

Mihnah berarti cobaan atau ujian yang diberikan kepada aparat negara dan ahli hadis untuk mengetahui faham mereka.[19] Ujian ini dilakukan oleh Mu’tazilah yang pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah (813-847 M) yaitu masa khalifah al Makmun, al Mu’tashim dan al Watsiq, Mu’tazilah mengalami perkembangan dan kejayaan karena mendapat dukungan dari khalifah dan dinyatakan sebagai mazhab resmi pemerintah. Al Makmun sendiri termasuk murid Abu Huzail al Dual (salah seorang tokoh Mu’tazilah dan bermaksud mengembangkan ajaran Mu’tazilah melalui kekuasaanya)[20]
Untuk melaksanakan gagasan yang terkenal dalam sejarah peristiwa al Mihnah ini, khalifah al Makmun dengan kekuasaannya mulai menerapkan dengan mengirim surat (instruksi) kepada gubernur-gubernurnya agar mengadakan Mihnah terhadap para qadhi yang berada dalam wilayah hukumnya. Pada saat itu khalifah sedang berada di luar kota Baghdad di kota Tarsus. Yang menjadi gubernur Baghdad ketika itu ialah Ishaq bin Ibrahim, isi surat tersebut agar para gubernur mengadakan penyelidikan terhadap para qadhi di daerahnya. Bagi mereka yang mengakui khalqu al Qur’an dan bersifat baru tidak qadim akan diberikan kepercayaan untuk melakukan mihnah terhadap orang lain. Instruksi mengadakan mihnah ini di Mesir cepat usai, tetapi di Kuffah kebanyakan masyarakat menentang kebijaksanaan khalifah.[21]
Pada langkah pertama terbatas kepada tindakan pemecatan dan tidak diberikannya kepada orang-orang yang tidak mau mengakui diciptakannya al Qur’an tidak sampai terjadi penganiayaan. Selanjutnya perintah khalifah kepada Gubernur Ishaq bin Ibrahim agar mengirimkan kepadanya tujuh orang pemuka ahli hadis untuk di uji sendiri oleh khalifah sendiri mereka itu Muhammad bin Sa’ad, Abu Muslim Yazid bin Harun, Yahya bin Ma’in, Zubair bin Harb dan Ahmad bin al-Dauraqi. Hal ini dengan pertimbangan agar para pemimpin di daerah yang berpendapat bahwa al Qur’an itu qadim, mereka akan takut dan dengan mudah mengikuti pendapat khalifah tanpa terjadi fitnah. Bagi mereka yang mau mengakui bahwa al Qur’an itu qadim, mereka akan dibebaskan kembali ke negerinya (Baghdad) supaya mereka menyampaikan kepada para ahli hadis dan fiqih di daerah mereka.
Pada kesempatan ini Ahmad bin Hanbal tidak diikut sertakan, melainkan dipanggil secara khusus untuk dihadapi oleh Ahmad bin Abi Daud Qadhi (advokat) kenamaan dalam urusan Mihnah. Karena Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat keras menentang faham Mu’tazilah terutama khalqu al Qur’an.
Pada langkah kedua, khalifah tidak melepaskan para ahli hadis dan ahli fiqih yang tidak mau mengakuinya. Hal ini dengan maksud dan tujuan untuk meluruskan dan memurnikan tauhid mereka, ibarat mengembalikan mereka dalam kekafiran.
Jika perlu bagi mereka yang tetap konsisten dan membangkang akan dibunuh sebagaimana membunuh orang yang murtad dari agamanya, karena mereka adalah anutan masyarakat yang harus menjadi contoh, karena itu imannya haruslah benar. Berikut Ishaq bin Ibrahim mengumpulkan/memanggil 30 orang qadhi/ahli hadis dan ahli fiqih untuk diadakan mihnah bagi mereka. Dalam ujian ini semuanya mengakui kebaruan al Qur’an, kecuali hanya 4 orang yaitu: Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Nuh, Sajadah dan Qawarir. Mereka yang mengakuinya dibebaskan dan keempat orang tersebut dibelenggu. Beberapa hari kemudian, ketika diadakan mihnah kembali, mereka mengakui khalqu al Qur’an itu kecuali Imam Ahmad bin Hanbal, maka dilepaslah kesemuanya kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.[22]
Penahanan Imam Ahmad bin Hanbal dan kemudian penahanan ke Tarsus, ia tidak dibunuh karena dikhawatirkan akan ada fitnah yang lebih besar karena banyaknya pengikut dan simpatisan dari kaum muslimin sampai tiba waktu terdengar berita tentang meninggalnya al Makmun, tetapi tidaklah ringan penderitaan Imam Ahmad bin Hanbal ini, karena sebelum khalifah meninggal ia telah mewasiatkan kepada keluarganya (al Mu’tashim) agar meneruskan ide dan kebijaksanaan ini (khalqu al Quran dan al mihnah), dan di ingatkan pula supaya selalu berkonsultasi dengan Ahmad bin Abi Daud.
Ahmad bin Hanbal tetap juga dengan pendiriannya meskipun dengan pukulan dan cambukan, di dalam riwayat Mas’udi, beliau dicambuk dengan cemeti 30 kali sampai berlumuran darah. Ahmad bin Abi Daud dan khalifah mengajak sang Imam ini untuk berdialog langsung dan di uji pula dengan penguji-penguji lainnya, namun Imam Ahmad bin Hanbal tetap pada pendiriannya semula sampai digantikannya khalifah dengan khalifah al Watsiq.
Pada masa khalifah al Watsiq, beliau di usir dan tidak boleh ditengok oleh siapapun. Ahmad bin Hanbal bersembunyi tidak keluar sama sekali, baik untuk shalat maupun keperluan lain sampai ia meninggal dunia.
Pada masa pemerintahan al Watsiq ini, al Mihnah tidak lagi hanya berlaku pada qadhi dan ulama-ulama ahli tapi juga diberlakukan lebih luas lagi seperti guru-guru, muadzin, penjaga masjid dan lain-lainnya sampai khalifah wafat dan digantikan dengan al Mutawakkil.

d. Ajaran-ajaran Mu’tazilah

1) Al Tauhid
Tuhan dalam paham Mu’tazilah betul-betul Esa dan tidak ada sesuatu yang serupa denganNya. Ia menolak paham anthromorpisme (paham yang menggambarkan Tuhannya serupa dengan makhlukNya) dan juga menolak paham beatic vision (Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala) untuk menjaga kemurnian Kemahaesaan Tuhan, Mu’tazilah menolak sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri di luar Zat Tuhan. Hal ini tidak berarti Tuhan tak diberi sifat, tetapi sifat-sifat itu tak terpisah dari ZatNya. Mu’tazilah membagi sifat Tuhan kepada dua golongan :
a. Sifat-sifat yang merupakan esensi Tuhan, disebut sifat dzatiyah, seperti al Wujud - al Qadim – al Hayy dan lain sebagainya
b. Sifat-sifat yang merupakan perbuatan Tuhan, disebut juga dengan sifat fi’liyah yang mengandung arti hubungan antara Tuhan dengan makhlukNya, seperti al Iradah – Kalam – al Adl, dan lain-lain.[23]

Kedua sifat tersebut tak terpisah atau berada di luar Zat Tuhan, Tuhan Berkehendak, Maha Kuasa dan sifat-sifat lainnya semuanya bersama dengan Zat. Jadi antara Zat dan sifat tidak terpisah.
Pandangan tersebut mengandung unsur teori yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa : penggerak pertama adalah akal, sekaligus subyek yang berpikir[24]

2) Al ‘Adl
Paham keadilan dimaksudkan untuk mensucikan Tuhan dari perbuatanNya. Hanya Tuhan lah yang berbuat adil, karena Tuhan tidak akan berbuat zalim, bahkan semua perbuatan Tuhan adalah baik. Untuk mengekspresikan kebaikan Tuhan, Mu’tazilah mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan mendatangkan yang baik dan terbaik bagi manusia. Dari sini lah muncul paham al Shalah wa al Aslah yakni paham Lutf atau rahmat Tuhan. Tuhan wajib mencurahkan lutf bagi manusia, misalnya mengirim Nabi dan Rasul untuk membawa petunjuk bagi manusia.[25]
Keadilan Tuhan menuntut kebebasan bagi manusia karena tidak ada artinya syari’ah dan pengutusan para Nabi dan Rasul kepada yang tidak mempunyai kebebasan. Karena itu dalam pandangan Mu’tazilah, manusia bebas menentukan perbuatannya.

3) Al Wa’d wa al Wa’id (Janji dan Ancaman)
Ajaran ini merupakan kelanjutan dari keadilan Tuhan, Tuhan tidak disebut adil jika ia tidak memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat buruk, karena itulah yang dijanjikan oleh Tuhan. QS. Al Zalzalah ayat 7-8.

Terjemahnya :“Barang siapa yang berbuat kebajikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan lihat balasannya, dan barang siapa yang berbuat keburukan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

4) Manzilah Baina Manzilatain (Posisi di antara dua tempat)
Posisi menengah dalam ajaran Mu’tazilah di tempati oleh orang-orang Islam yang berbuat dosa besar. Pembuat dosa besar bukan kafir karena masih percaya kepada Tuhan dan Nabi Muhammad saw, tetapi tidak juga dapat dikatakan mukmin karena imannya tidak lagi sempurna, maka inilah sebenarnya keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya), akan tetapi di akhirat hanya ada syurga dan neraka, maka tempat bagi orang-orang yang berbuat dosa adalah di neraka, hanya saja tidak sama dengan orang-orang kafir sebab Tuhan tidak adil jika siksaannya sama dengan orang kafir. Jadi lebih ringan dari orang kafir[26]

5) Amar Ma’ruf , Nahi Munkar.
Perintah berbuat baik dan mencegah kemungkaran adalah suatu kebajikan bagi semua umat Islam. Seruan amar ma’ruf nahi munkar bisa dilakukan dengan hati, tetapi jika memungkinkan dapat dilakukan dengan seruan bahkan dengan tangan dan pedang. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang artinya :

“Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hati, itulah serendah-rendahnya iman”.



e. Tokoh-tokoh aliran Mu’tazilah.

Tokoh aliran Mu’tazilah banyak jumlahnya dan masing-masing mempunyai pikiran dan ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya atau tokoh-tokoh pada masanya, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran sendiri. Dari segi geografis, aliran Mu’tazilah dibagi menjadi dua, yaitu aliran Mu’tazilah Basrah dan aliran Mu’tazilah Baghdad. Aliran Mu’tazilah Basrah lebih dahulu munculnya, lebih banyak mempunyai kepribadian sendiri dan yang pertama-tama mendirikan aliran Mu’tazilah.
Perbedaan antara kedua aliran Mu’tazilah tersebut pada umumnya disebabkan karena situasi geografis dan kulturil. Kota Basrah lebih dahulu didirikan daripada kota Baghdad, dan lebih dahulu mengenal perpaduan aneka ragam kebudayaan dan agama. Dalam pada itu, meskipun Baghdad kota terbelakang didirikan, namun menjadi ibukota khilafat Abbasiyah.
Menurut Ahmad Amin sebagaimana yang ditulis oleh A. Hanafi bahwa pengaruh filsafat Yunani pada aliran Mu’tazilah Baghdad lebih nampak, karena adanya kegiatan penerjemahan buku-buku filsafat di Baghdad, dan juga karena istana khalifah-khfalifah Abbasiyah di Baghdad menjadi tempat pertemuan ulama-ulama Islam dengan ahli-ahli pikir golongan lain. Aliran Basrah lebih banyak menekankan segi-segi teori dan keilmuan, sedang aliran Baghdad sebaliknya, lebih menekankan segi pelaksanaan ajaran Mu’tazilah dan banyak terpengaruh oleh kekuasaan khalifah-khalifah. Aliran Baghdad banyak mengambil soal-soal yang telah dibahas aliran Basrah, kemudian diperluas pembahasannya.[27]
Tokoh-tokoh aliran Basrah: al Washil bin ‘Atho, al ‘Allaf, An Nazzham dan Jubba’i. Tohoh-tokoh aliran Baghdad antara lain : Bisyr bin al Mu’tamir, al Khayyat. Kemudian pada masa-masa berikutnya lagi ialah Qadhi Abdul Jabar dan az Zamakhsyari. Uraian berikut ini didasarkan atas urut-urutan geografis dan kronologis.[28]

1. Washil bin ‘Atha (699-748 M)
Nama lengkapnya Washil bin ‘ Atha al Ghazzal, ia terkenal sebagai pendiri aliran Mu’tazilah yang pertama dan peletak lima besar ajaran Mu’tazilah

2. Abu Huzail al ‘Allaf (226 H/841 M)
Abu Huzzail al ‘Allaf adalah pendiri yang sebenarnya bagi aliran Mu’tazilah. Ia mengembangkan pandangan-pandangan Mu’tazilah dan meramunya dengan informasi-informasi baru. Atas prakarsanya, tidak sedikit lahir tokoh besar Mu’tazilah. Ia dilahirkan di Basrah dan lama berdomisili di kota ini. Al ‘Allaf pernah diundang ke Baghdad untuk beberapa waktu, ia diberi umur panjang, hidup sekitar 100 tahun lamanya. Hidup sezaman dengan gerakan penerjemahan Islam yang terbesar. Berhubungan dengan kebudayaan asing. Kelebihan al ‘Allaf ialah karena punya pengetahuan luas, pemikiran mendalam, lisan fasih, argumentasi yang kuat, dan Pendebat aliran dualisme dan rafidah. Seringkali dalam perdebatan al ‘Allaf berhasil membungkam lawannya. Ia begitu terampil dalam diskusi-diskusinya hingga mampu mematahkan (argumentasi) lawan, bahkan berhasil menarik kaum penentang untuk memeluk Islam. Al ‘Allaf menulis dan mengarang banyak buku, sayangnya kira-kira itu tidak diselamatkan dan musnah dimakan zaman, yang dalam masalah ini ia sampai pada sejumlah pandangan yang keras dan aneh, sehingga menjadi topik kritik pro dan kontra. Al ‘Allaf merupakan orang pertama dari kalangan kaum muslimim yang serius terjun menggeluti problematika ketuhanan, yang dibalut dengan label filosofis.[29]



3. Al Nazzam (231 H/ 845 M)
Al Nazzam adalah filosof pertama dari kalangan Mu’tazilah yang paling mendalam pikirannya. Paling berani, paling banyak berfikir merdeka di samping orisinil pendapatnya di antara mereka. Al Nazzam adalah anak saudara perempuan al ‘Allaf dan muridnya sekaligus. Belajar kepadanya kemudian memberontak dan berfikir merdeka. Al Nazzam sejalan dengan al ‘Allaf dalam hal keluasan cakrawala, kefasihan lisan dan kekuatan berargumentasi. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Basrah, kemudian mengembara di pusat-pusat peradaban Islam kemudian ia berdomisili di Baghdad. Ia tidak diberi umur panjang seperti gurunya al ‘Allaf . Di antara pendapat yang kuat mengatakan bahwa ia meninggal pada usia 60-70 tahun. Berkat kecerdasannya ia mampu menguasai dan mengkritik teori-teori yang berkembang di sekitarnya, dan membawa kesimpulan baru.[30]

4. Abu Hasyim al Jubba’i (321 H/ 932 M)
Al Jubba’i adalah tokoh besar terakhir dari kalangan Mu’tazilah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Basrah. Ia belajar kepada ayahnya, kemudian memisahkan diri darinya, berbeda pendapat dengannya lalu mendirikan kelompok khusus. Ia hidup sezaman dengan al Farabi dan sebagian kaum paripatetik Arab dan terpengaruh mereka . Teorinya tentang al Ahwal (kondisi-konsisi), merupakan saksi terbaik yang membuktikan anggapan itu. Al Jubba’i berusaha untuk menolak sebagian teori kosmologi yang dikemukan oleh Aristoteles.[31]

5. Bisyr bin Al Mu’tamir (226 H/ 840 M)
Ia adalah pendiri aliran Mu’tazilah di Baghdad. Pandangan-pandangannya mengenai kesusasteraan, sebagaimana yang banyak dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya “al Bayan wa al Tabyin”, menimbulkan dugaan bahwa dia adalah orang yang pertama-tama mengadakan ilmu Balaghah.[32]
Beberapa pendapatnya tentang paham Mu’tazilah hanya sedikit saja yang sampai kepada kita. Ia adalah orang-orang yang pertama mengemukakan soal tawallud (reproduction) yang boleh dimaksudkan untuk mencari batas-batas pertanggung jawab manusia atas perbuatannya.
Di antara murid-muridnya yang besar pengaruhnya dalam penyebaran paham-paham ke-Mu’tazilahan di Baghdad ialah Abu Musa al Mudar, Tsumamah bin al Asyras dan Ahmad bin Fuad.

6. Al Khayyat (303 H/ 925 M)
Ia adalah Abu Husein al Khayyat, termasuk tokoh Mu’tazilah Baghdad dan pengarang buku ‘al Intisar’ yang dimaksudkan untuk membela aliran Mu’tazilah dari serangan Ibnu al Rawandi. Ia hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah.

7. Al Qadhi Abdul Jabbar (1024 M di Ray)
Ia juga hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah. Ia diangkat menjadi kepala hakim (qadhi al qudhat) oleh Ibnu ‘Abad.[33] Di antara karangan-karangannya ialah ulasan tentang pokok-pokok ajaran aliran Mu’tazilah terdiri dari beberapa jilid, dan banyak dikutip oleh as Syarif al Murtadha. Buku tersebut sedang dalam penerbitan di Kairo dengan nama “al Mughni”.

8. Az Zamakhsyari (467-538 H/ 1075-1144 M)
Namanya Jaar Allah Abul Qasim Muhammad bin Umar, kelahiran Zamakhsyar, sebuah dusun di negeri Khawarazm (sebelah selatan lautan Qazwen), Iran. Sebutan Jaarullah yang berarti tetangga Tuhan, dipakainya karena ia lama tinggal di Mekah dan bertempat di sebuah rumah dekat Ka’bah. Selama hidupnya ia banyak mengadakan perlawatan, dari negeri kelahirannya menuju Baghdad, kemudian ke Mekkah untuk bertempat di sana beberapa tahun lamanya dan akhirnya ke Jurjan (Persi-Iran) dan di sana ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.[34]
Pada diri al Zamakhsyari sekumpulan karya alran Mu’tazilah selama kurang lebih empat abad. Ia menjadi tokoh dalam ilmu tafsir, nahwu (grammatika) dan paramasastera (lexicology) seperti yang dapat kita lihat dalam tafsirnya ‘al Kassyaf’ dan kitab-kitab lainnya, seperti “al Fa-iq, Assaul Balaghahdan al Mufassal”.
Ia dengan terang-terangan menonjolkan paham ke-Mu’tazilahannya dengan dituliskan dalam buku-bukunya, serta dikemukakannya dalam pertemuan-pertemuan keilmuan. Dalam tafsirnya ‘al Kassyaf’, ia telah berusaha sekuatnya untuk menafsirkan ayat-ayat al Quran berdasarkan ajaran-ajaran Mu’tazilah, terutama lima prinsip, yaitu Tauhid, Keadilan, Janji dan Ancaman, Tempat di antara dua tempat dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Munculnya golongan atau kelompok Mu’tazilah
Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha' berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).
Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk ada dua golongan.
Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari.
Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi.

B. Beberapa Versi Tentang Nama Mu’tazilah
Beberapa versi tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada golongan kedua ini berpusat pada peristiwa yang terjadi antara wasil bin ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan hasan Al-Basri di basrah. Ketika wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Al Basri di masjid Basrah., datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al Basri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan “Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.” Kemudian Wasil menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan pergi ke tempat lain di lingkungan mesjid. Di sana Wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Dengan adanya peristiwa ini, Hasan Al Basri berkata: “Wasil menjauhkan diri dari kita (i’tazaala anna).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan diri dari peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah.
Versi lain dikemukakan oleh Al-Baghdadi. Ia mengatakan bahwa Wasil dan temannya, Amr bin Ubaid bin Bab, diusir oleh Hasan Al Basri dari majelisnya karena adanya pertikaian diantara mereka tentang masalah qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu golongan ini dinamakan Mu’tazilah.
Versi lain dikemukakan Tasy Kubra Zadah yang menyatakan bahwa Qatadah bin Da’mah pada suatu hari masuk mesjid Basrah dan bergabung dengan majelis Amr bin Ubaid yang disangkanya adalah majlis Hasan Al Basri. Setelah mengetahuinya bahwa majelis tersebut bukan majelis Hasan Al Basri, ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata, “ini kaum Mu’tazilah.” Sejak itulah kaum tersebut dinamakan Mu’tazilah.
Al-Mas’udi memberikan keterangan tentang asal-usul kemunculan Mu’tazilah tanpa menyangkut-pautkan dengan peristiwa antara Wasil dan Hasan Al Basri. Mereka diberi nama Mu’tazilah, katanya, karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi menduduki tempat diantara kafir dan mukmin (al-manjilah bain al-manjilatain). Dalam artian mereka memberi status orang yang berbuat dosa besar itu jauh dari golongan mukmin dan kafir.

C. Ajaran yang Diajarkan oleh Golongan Mu’tazilah
Ada beberapa ajaran yang di ajarkan oleh golongan Mu’tazilah yaitu misalnya: Al – ‘adl (Keadilan). Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan. Dalilnya kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah : “Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205) “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya”. (Az-Zumar:7) Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya) oleh karena itu merekan menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al – ‘Adliyyah. Al-Wa’du Wal-Wa’id. Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.
Kaum mu'tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan murji'ah. dalam pembahasan , mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama "kaum rasionalis Islam".
Aliran mu'tazilah merupakan aliran teologi Islam yang terbesar dan tertua, aliran ini telah memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Orang yang ingin mempelajari filsafat Islam sesungguhnya dan yang berhubungan dengan agama dan sejarah Islam, haruslah menggali buku-buku yang dikarang oleh orang-orang mu'tazilah, bukan oleh mereka yang lazim disebut filosof-filosof Islam.
Aliran Mu'tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijrah di kota Basrah (Irak), pusat ilmu dan peradaan dikala itu, tempat peraduaan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama. Pada waktu itu banyak orang-orang yang menghancurkan Islam dari segi aqidah, baik mereka yang menamakan dirinya Islam maupun tidak.


BAB III
KESIMPULAN

Secara harfiah Mu’tazilah adalah berasal dari I’tazala yang berarti berpisah. Aliran Mu’taziliyah (memisahkan diri) muncul di basra, irak pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik
Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar aliran Mu’tazilah yang menolak pandangan-pandangan kedua aliran di atas. Bagi Mu’tazilah orang yang berdosa besar tidaklah kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka menyebut orang demikian dengan istilah al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih bersifat rasional bahkan liberal dalam beragama.
Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cenderung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisonal Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab Ibn Hambal. Sepeninggal al-Ma’mun pada masa Dinasti Abbasiyah tahun 833 M., syi’ar Mu’tazilah berkurang, bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh Khalifah al-Mutawwakil pada tahun 856 M.
Perlawanan terhadap Mu’tazilah pun tetap berlangsung. Mereka (yang menentang) kemudian membentuk aliran teologi tradisional yang digagas oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (935 M) yang semula seorang Mu’tazilah. Aliran ini lebih dikenal dengan al-Asy’ariah.
Di Samarkand muncul pula penentang Mu’tazilah yang dimotori oleh Abu Mansyur Muhammad al-Maturidi (w.944 M). aliran ini dikenal dengan teologi al-Maturidiah. Aliran ini tidak setradisional al-Asy’ariah tetapi juga tidak seliberal Mu’tazilah.


DAFTAR PUSTAKA

Rojak Abdul, Anwar Rosihon. ilmu kalam. 2006. CV Pustaka Setia, Bandung.
Jauhari, Heri, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, CV Pustaka Setia, Bandung
http://www.almanhaj.or.id/content/1985/slash/0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih Atas Partisipasinya