S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

THAREQOT QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH

1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan beragama khususnya agama islam, yang dicari oleh umat manusia adalah agar mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dalam rangka mendapatkan kebahagiaan tersebut manusia harus selalu bertaqwa kepada Alloh SWT, menjalankan semua perintahnya dan menjajui semua yang dilarang-Nya. Manusia senantiasa selalu berdo’a kepada Alloh SWT agar semua yang menjadi hajatnya dikabulkan.
Beribadah atau berdo’a manusia harus dekat dengan Alloh SWT, agar apa yang di hajatkan bisa terkabulkan. Manusia harus memiliki jalan untuk dilewati agar bisa dekat dengan Alloh SWT. Untuk itu manusia dituntut supaya mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan cara yang sesuai dengan jalan yang dilewatinya. Dalam penyusunan makalah ini penulis akan membahas jalan yang dilewati itu, yang disebut dengan thoreqot. Dalam hal ini penulis telah meneliti thoreqot yang ada di PP. Darul Ulil Albab desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dalam penuyusunan maklalah ini ada beberapa masalah yang harus dibahas dalam makalah ini, antara lain sebagai berikut :
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan thareqot ?
1.2.2 Apakah amalan-amalan para ahli thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah?
1.2.3 Bagaimanakah silsilah kemursyidan thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah ?
1.2.4 Bagaimanakah pokok-pokok ajaran thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah ?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Mengetahui pengertian thareqot
1.3.2 Mengetahui amalan-amalan thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah
1.3.3 Mengetahui silsilah kemursyidan thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah
1.3.4 Mengetahui pokok-pokok ajaran thareqot qodiriyah wa naqsabandiyah

PEMBAHASAN
2.1. Pengenalan Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Menurut Harun Nasution toriqot adalah jalan yang harus ditempuh seseorang murid agar sedekat mungkin dengan Tuhan di bawah bimbingan seorang Mursyid. Tareqot mencoba member rasa aman dan kesejahteraan di kehidupan akhirat kepada para pengikutnya, setelah mereka merasa bahwa kehidupan mereka di dunia sudah mendekati akhir.Di samping itu tareqot berusaha membuka pintu surga bagi public. Tareqot adalah jalan untuk memastikan kesamaan peliang untuk masuk surge bagi semua lapisan masyarakat, baik yang alim, awam, kaya ataupun miskin.
Ruh sebelum masuk ke tubuh memang suci, tetapi setelah bersatu dengan tubuh sering kali menjadi kotor karena digoda hawa nafsu. Maka agar dapat mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Suci, uh manusia harus terlebih dahulu disucikan. Sufi-sufi besar kemudian merintis jalan sebagai media untuk penyucian jiwa yang dikenal dengan nama tareqot (jalan).
Tareqot adalah jalan yang harus ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pdari syari’at, sebab jaln utama disebut Syar sedang anak jalanan disebut Thariq. Kata turunan ini menunjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jaln utama yang terdiri atas hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidaklah mungkin ada jalan tanpa jalan utama tempat ia berpangkal.
Diantara berbagai macam thareqot yang ada terdapat thareqot yang bernama thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah. Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah merupakan penggabungan dari dua thareqot besar yaitu Thareqot Qodiriyah dan thareqot Naqsabandiyah. Penggabungan dua thareqot ini dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga terbentuk sebuah thareqot yang mandiri dan berbeda dengan kedua induknya.
Jadi Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah yang ada di Indonesia merupakan thareqot yang mandiri yang didalamnya terdapat unsure-unsur Qodiriyah dan Naqsabandiyah.
2.2 Amalan-amalan Ahli Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Di PP. Darul Ulil Albab Kelutan, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur.
Amalan Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Kemursyidan di desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur.
2.2.1 Amalan Harian
Seorang ahli thareqot dalam setiap harinya harus senantiasa mengamalkan amaliyah-amaliyah berikut ini : Sholat-sholat sunnah, dzikir karamat dan dzikir hasanat, doa-doa dan kegiatan kemasyarakatan. Sebagai perwujudan atas kepedulianya dalam pembinaan komunikasi yang harmonis dengan Alloh dankomunikasi dengan manusia.
2.2.1.1 Melaksanakan Sholat
Di samping melaksanakan sholat fadhu lima waktu dengan disiplin dan khusyu’, seorang ahli thareqot setiap hari harus juga melaksanakan sholat-sholat sunnah. Khususnya sholat sunnah rowatib, sholat sunnah dhuha dan sholat sunnah tahajud walaupun hanya dua roka’at.
2.2.1.2 Mengamalkan dzikir
Dzikir yang harus dilakukan oleh pengamal Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah ada dua macam yaitu : Dzikir karamat (wajib) dan dzikir hasanat (sunnah).
Dzikir karamat adalah dzikir yang tatacara pengamalannya telah ditetapkan oleh guru yang telah mengajarinya.
Sedangkan dzikir hasanat adalah dzikir yang tatacaranya tidak ditetapkan atau tidak terikat oleh hitungan, tempat dan waktu tertentu.
Adapun secara garis besar dapat dikatakan bahwa seorang pengamal thareqot ini setiap selesai sholat lima waktu harus melakukan dzikir Lailaha illalloh 165 kali. Dengan tatacara sebagai berikut:
1. Membaca Istighfar 3x
2. Membaca Sholawat 3x
3. Rhobithoh mursyid (mengingat guru yang mengajar dzikir, sebagai pernyataan batin bahwa dirinya mengikuti pengajaran guru tersebut).
Melakukan dzikir 165 kali (jumlah ini bias berubah sesuai dengan jumlah jama’ah atau kesepakatan dengan mursyid). Demikian juga harus melakukan dzikir Ismu Dzat (menyebut Alloh, Alloh, Alloh) dalam hati sebanyak 5000 x dalam sehari semalam.
Amalan dzikir ismu dzat ini bias dilakukan satu kali duduk, bias juga dilakukan secara kredit setiap selesai sholat fardhu atau diwaktu-waktu lain yang memungkinkan. Kedua jenis dzikir itu di talqinkan sekaligus oleh seorang mursyid pada waktu talqin pertama kali.
Agar dzikir dapat member hasil yang optimal dalam proses pembersihan jiwa, maka seorang dzakir sebelum melaksanakan dzikir harus memperhatikan adab atau etika dzikir, yaitu :
1. Harus suci dari hadast dan najis, baik badan, pakaian maupun tempatnya
2. Menghadap kiblat, (sebagai arah yang terbaik dalam beribadah)
3. Duduk aks’ tawarru’ (kebalikan duduknya tahiyat akhir)
4. Rabithoh (mengingat rupa guru yang mengajar dzikir, sebagai pernyataan batin, bahwa dirinya makmum kepada gurunya tersebut)
Adab ini berlaku untuk pelaksanaak kedua macam dzikir tersebut, dzikir naïf istbat dan dzikir ismu dzat.
Adapun amalan dzikir hasanatnya adalah semua dzikir ma’tsurat (yang diajarkan oleh Nabi SAW) secara umum, dalam setiap kesempatan atau menembahi jumlah dzikir karamat (baik dzikir jahri maupun dzikir sirri) yang telah menjadi kwajiban harianya dalam hitungan yang sebanyak-banyaknya).
2.2.2 Amalan Mingguan
Inti kegiatan dan amalan yang dilaksanakan seminggu sekali oleh pengikut thareqot ini adalah mujahadah bersama yang biasa disebut tawajjuhan (pertemuan antara murid dan mursyid dalam sebuah kegiatan spiritual) yang berisi kegiatan sholat-sholat sunnah, istighosah, pengajian dan pembacaan rotib khotaman, serta kegiatan kemasyarakatan.
2.2.3 Amalan Bulanan
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali adalah mujahadah bersama yang berisi : pembcaan rotib istighosah, sholat sunnah, manaqiban, fida’an, pengajian, kegiatan kemasyarakatan.
2.2.4 Amalan Tahunan
Inti kegiatan yang dilaksanakan setahun sekali adalah kholwat (intensifikasi ibadah dan pengamalan ajaran thareqot di dalam Ribath atau pesantren) dengan niat ibadah taqarrub ilalloh atau mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
2.2.5 Adab dan Etika
Buku pegangan adab dan etika islami yang harus digunakan oleh pengikut Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah PP. Darul Ulil Albab Kelutan, kode etik seorang muslim susunan KH. DR. Khaarissudin Aqib M.Ag Al Mursyid.
2.3 Silsilah Kemursyidan Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Di PP. Darul Ulil Albab Kelutan, Ngronggot, Nganjuk, jwa timur, Indonesia.
Mursyid dari Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk adalah DR. KH Kharissudin Aqib, M.Ag. beliau resmi menjadi mursyid pada tahun 2003, yang dilantik oleh mursyid thareqot di kabupaten Demak. Berikut ini lampiran silsilah kemursyidan DR. KH Kharissudin Aqib, M.Ag. silsilahnya sebagai berikut :
1. Alloh SWT
2. Jibril As
3. Nabi Muhammad SAW
4. Abu Bakar As sidiq
5. Ali bin Abi Tholib
6. Salman Al Farisi
7. Husain ibnu Ali
8. Qosim ibnu muh Abu Bakar
9. Ali Zainal Abidin
10. Imam ja’far sodiq
11. M. Al Baqir
12. Abu Yazid Al Busthomi
13. Ja’far Al shodiq
14. Abu hasan kharqoni
15. Musa Al Khadim
16. Abu Ali Al Farmadi
17. Ali ibnu musa Al Ridho
18. Yusuf Al Hamdani
19. Ma’ruf Al Kharaqi
20. Abdul Kholiq Gudzawani
21. Sarri Al saqoti
22. Arif Riya Al Qori’
23. Abu Qosim Jainadi Al Baghdadi
24. Muhammad Anjiri
25. Abu Bakara Al Sibli
26. Ali Rami Tamimi
27. Abdul Wahid Al Tamimi
28. M. Baba Sambasi
29. Abu Al fajar Al turtusi
30. Amir Kulali
31. Abdul Hasan Ali Al kharaqi
32. Bahaudin Al Naqsabandi
33. Abu Said Mubarok Al Majzami
34. M. Alaudin Al Attari 35. Abdul Qodir Al Jailani
36. Ya’qub Jarekhi
37. Abdul Aziz
38. Ubaidillah Ahrari
39. M. Hattaq
40. M. Zahid
41. Syamsudin
42. Darwis Muhammad Baqi’billah
43. Syarifudin
44. A. Furuqi Al Shirbindi
45. Waliudin
46. Syaifudin Afif Muhammad
47. Hisyamudin
48. Nur Muhammad Badawi
49. Yahya
50. Syamsudin Habibulloh Janjani
51. Abu Bakar
52. Abdulloh Al Dahlawi
53. Abdul Rohim
54. Abu Said Al Ahmadi
55. Usman
56. Ahmad Said
57. Abduk Fattah
58. M. Jan Al Maki
59. M. Murod
60. Khoil Hilmi
61. Syamsudin
62. A. Khotib Al Syambasi
63. Abdul Karim Al Bantani
64. Ibrahim Al Brobongi
65. Abdul Rahman Menur
66. Mushlih Abdur Rahman
67. Ahmad Lutfi Al Hakim
68. Kharissudin Al Kelutani

2.4 Pokok-pokok Ajaran Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Sebagai suatu madhab dalam tasawuf, Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah memiliki beberapa ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam kehidupan kesufian. Ada beberapa ajaran yang diyakini paling efektif dan efisien sebagai metode untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Pada umumnya metode yang menjadi ajaran dalam thareqot ini didasarkan pada Al Qu’an, Hadist, dan Perkataan para sufi.
Ada beberapa pokok ajaran dalam Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah diantaranya tentang suluk, adab para murid dan dzikir.
2.4.1 Kesempurnaan Suluk
Ajaran yang sangat ditekankan dalm Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah adalah suatu keyakinan bahwa kesempurnaan suluk (merambah jalan kesufian dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh SWT), adalah jika berada dalam tiga dimensi keimanan, yaitu : Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga term tersebut biasanya dikemas dalam satu jalan three in one yang sangat popular dengan istilah Syari’at, Thareqot dan Hakekat.
Syari’at adalah dimensi perundang-undangan dalam islam. Ia merupakan ketentuan yang telah ditentukan oleh Alloh SWT, melalui Rosul-Nya Muhammad SAW. Baik yang berupa peritah maupun larangan. Thareqot merupakan dimensi pelaksanaan syari’at tersebut. Sedangkan hakekat adalah dimensi penghayatan dalam pengamalan thareqot tersebut. Dengan penghayatan atas pengamalan syari’at itulah, maka seorang akan mendapatkan manisnya amian yang disebut Ma’rifat.
Para sufi mrnggambarkan hakekat suluk sebagai upaya mencari mutiara yang ada di dasar lautan yang dalam. Sehingga ketiga hal tersebut menjadi mutlak penting karena berada dalam satu system. Syari’at digambarkan sebagai kapal yang berfungsi sebagai alat transformasi untuk sampai ke tujuan. Thareqot sebagai lautan yang luas dan tempat adanya mutiara. Sedangkan hakekat adalah mutiara yang dicari-cari. Mutiara yang dicari oleh para sufi adalah ma’rifat kepada Alloh SWT. Orang tidak akan mendapatkan mutiara tanpa menggunakan kapal.
Dalam Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah diajarkan bahwa thareqot diamalkan justru dalam rangka menguatkan syari’at. Karena berthareqot dengan mengabaikan syari’at ibarat bermain diluar system, sehingga tidak akan dapat mendapatkan sesuatu kecuali kesia-siaan.
Ajaran tentang prinsip kesempurnaan suluk merupakan ajaran yang selali ditekankan oleh pendiri Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah yaitu Syeh Abdu Qodir Jaelani, hal ini dapat dimaklumi karena beliau seorang sufi sunni dan sekaligus ulama fiqih.
2.4.2 Adab Kepada Mursyid
Adab kepada mursyid merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam thareqot. Adab atau etika dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal ini diyakini karena muasyarah (pergaulan) antara murid dengan mursyid melestarikan sunnah yang dilakukan pada massa Nabi. Kedudukan murid merupakan peran sahabat sedang kedudukan seorang mursyid menempati peran Nabi dalam hal Irsyad (bimbingan) dan ta’lim (pengajaran).
Seorang murid harus menghomati mursyidnya lahir batin. Dia harus yakin bahwa maksudnya tidak akan tercapai melainkan ditangan mursyid, serta menjauhkan diri dari segala yang dibenci oleh mursyidnya.
2.4.3 Dzikir
Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah adalah termasuk thareqot dzikir, sehingga dzikir menjadi ciri khas yang mesti ada dalam thareqot. Dalam suatu thareqot dzikir dilakukan secara terus menerus (istiqomah), hal ini dimaksudkan sebagai suatu latihan psikologis (riyadhoh al nafs) agar seorang dapat mengingat Alloh disetiap waktu dan kesempatan. Dzikir merupakan makanan spiritual para sufi dan merupakan apresiasi cinta kepada Alloh. Sebab orang yang mencintai sesuatu tentunya ia akan banyak menyebut namanya.
Yang dimaksud dzikir dalam Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah adalah aktifitas lisan maupun hati sesuai yang telah dibaiatkan oleh mursyid. Dalam ajaran Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah terdapat dua jenis dzikir yaitu dzikir nafi isbat dan dzikir ismu dzat. Dzikir nafi isbat adalah dzikir kepada Alloh dengan menyebut kalimat “La ilaha Illalloh”. Dzikir ini merupakan inti ajaran Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah yang dilafadkan secara jahr (dengan suara keras). Sedangkan dzikir ismu dzat adalayh dzikir kepada Alloh dengan menyebut kalimat “Alloh” secara Sirri atau Khafi (dalam hati). Dzikir ini juga disebut dengan dzikir latifah dan merupakan ciri khas dalam Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah. Kedua jenis dzikir ini dibaiatkan sekaligus oleh seorang mursyid pada waktu baiat pertama kali.
Dapatlah dipahamin bahwa thareqot adalah cara atau jalan bagaimana seorang berada sedekat mungkin dengan Alloh. Di awal munculnya, thareqot hanya sebuah metode bagaimana seorang dapat mendekatkan diri kepada Alloh SWT dan masih belum terikat dengan aturan-aturan yang ketat. Tetapi pada perkembangan berikutnya thareqot mengalami perkembangan menjadi sebuah pranata kerohanian yang mempunyai elemen-elemen pokok yang mesti ada, yaitu : Mursyid, Silisilah, Baiat, Murid, dan Ajaran-ajaran.
Tujuan seorang mendalami thareqot muncul setelah ia menempuh jalan sufi (tasawuf) melalui penyucian hati (tasfiyatul qolb). Pada prakteknya tasawuf merupakan adopsi ketat dari prinsip islami dengan jalan mengerjakan seluruh perintah wajib dan sunnah agar mencapai ridho Alloh SWT.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1. Pengenalan Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Menurut Harun Nasution toriqot adalah jalan yang harus ditempuh seseorang murid agar sedekat mungkin dengan Tuhan di bawah bimbingan seorang Mursyid. Tareqot mencoba member rasa aman dan kesejahteraan di kehidupan akhirat kepada para pengikutnya, setelah mereka merasa bahwa kehidupan mereka di dunia sudah mendekati akhir.Di samping itu tareqot berusaha membuka pintu surga bagi public. Tareqot adalah jalan untuk memastikan kesamaan peliang untuk masuk surge bagi semua lapisan masyarakat, baik yang alim, awam, kaya ataupun miskin.
Tareqot adalah jalan yang harus ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pdari syari’at, sebab jaln utama disebut Syar sedang anak jalanan disebut Thariq. Kata turunan ini menunjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jaln utama yang terdiri atas hukum ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tidaklah mungkin ada jalan tanpa jalan utama tempat ia berpangkal.
3.2 Amalan-amalan Ahli Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Di PP. Darul Ulil Albab Kelutan, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur.
3.2.1 Amalan Harian
Seorang ahli thareqot dalam setiap harinya harus senantiasa mengamalkan amaliyah-amaliyah berikut ini : Sholat-sholat sunnah, dzikir karamat dan dzikir hasanat, doa-doa dan kegiatan kemasyarakatan.
3.2.1.1 Melaksanakan Sholat
Di samping melaksanakan sholat fadhu lima waktu dengan disiplin dan khusyu’, seorang ahli thareqot setiap hari harus juga melaksanakan sholat-sholat sunnah
3.2.1.2 Mengamalkan dzikir
Adapun secara garis besar dapat dikatakan bahwa seorang pengamal thareqot ini setiap selesai sholat lima waktu harus melakukan dzikir Lailaha illalloh 165 kali. Dengan tatacara sebagai berikut: Membaca Istighfar 3x, Membaca Sholawat 3x, Rhobithoh mursyid (mengingat guru yang mengajar dzikir, sebagai pernyataan batin bahwa dirinya mengikuti pengajaran guru tersebut).
2.2.2 Amalan Mingguan
Inti kegiatan dan amalan yang dilaksanakan seminggu sekali oleh pengikut thareqot ini adalah mujahadah bersama yang biasa disebut tawajjuhan (pertemuan antara murid dan mursyid dalam sebuah kegiatan spiritual) yang berisi kegiatan sholat-sholat sunnah, istighosah, pengajian dan pembacaan rotib khotaman, serta kegiatan kemasyarakatan.
2.2.3 Amalan Bulanan
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali adalah mujahadah bersama yang berisi : pembcaan rotib istighosah, sholat sunnah, manaqiban, fida’an, pengajian, kegiatan kemasyarakatan.
2.2.4 Amalan Tahunan
Inti kegiatan yang dilaksanakan setahun sekali adalah kholwat (intensifikasi ibadah dan pengamalan ajaran thareqot di dalam Ribath atau pesantren) dengan niat ibadah taqarrub ilalloh atau mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
2.2.5 Adab dan Etika
Buku pegangan adab dan etika islami yang harus digunakan oleh pengikut Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah PP. Darul Ulil Albab Kelutan, kode etik seorang muslim susunan KH. DR. Khaarissudin Aqib M.Ag Al Mursyid.
3.3 Silsilah Kemursyidan Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Di PP. Darul Ulil Albab Kelutan, Ngronggot, Nganjuk, jwa timur, Indonesia.
Mursyid dari Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di desa Kelutan, Ngronggot, Nganjuk adalah DR. KH Kharissudin Aqib, M.Ag. beliau resmi menjadi mursyid pada tahun 2003, yang dilantik oleh mursyid thareqot di kabupaten Demak. Berikut ini lampiran silsilah kemursyidan DR. KH Kharissudin Aqib, M.Ag. silsilahnya sudah disebutkan di atas.
3.4 Pokok-pokok Ajaran Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah
Ada beberapa pokok ajaran dalam Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah diantaranya tentang suluk, adab para murid dan dzikir.
3.4.1 Kesempurnaan Suluk
Ajaran yang sangat ditekankan dalm Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah adalah suatu keyakinan bahwa kesempurnaan suluk (merambah jalan kesufian dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh SWT), adalah jika berada dalam tiga dimensi keimanan, yaitu : Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga term tersebut biasanya dikemas dalam satu jalan three in one yang sangat popular dengan istilah Syari’at, Thareqot dan Hakekat.
3.4.2 Adab Kepada Mursyid
Adab kepada mursyid merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam thareqot. Adab atau etika dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal ini diyakini karena muasyarah (pergaulan) antara murid dengan mursyid melestarikan sunnah yang dilakukan pada massa Nabi. Kedudukan murid merupakan peran sahabat sedang kedudukan seorang mursyid menempati peran Nabi dalam hal Irsyad (bimbingan) dan ta’lim (pengajaran).
3.4.3 Dzikir
Thareqot Qodiriyah Wa Naqsabandiyah adalah termasuk thareqot dzikir, sehingga dzikir menjadi ciri khas yang mesti ada dalam thareqot. Dalam suatu thareqot dzikir dilakukan secara terus menerus (istiqomah), hal ini dimaksudkan sebagai suatu latihan psikologis (riyadhoh al nafs) agar seorang dapat mengingat Alloh disetiap waktu dan kesempatan.

DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Kharisudin, 2004. Al-Hikmah, Memahami Teosofi Tharekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, Surabaya : PT. Bina Ilmu
Bsthul Bisri, Maftuh, 1999. Manaqib 50 Wali Agung, Lirboyo

1 komentar:

Terima kasih Atas Partisipasinya