S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

Kode Etik Dan Profesionalisme Guru

KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU
1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pendidik mempunyai dua arti, secara luas artinya ialah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Secara alamiah anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dari orang-orang dewasa agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara wajar. Orang-orang yang berkewajiban membina anak-anak secara alamiah adalah orang tua masing-masing, warga masyarakat, dan tokoh-tokohnya.
Sedangkan pendidik dalam arti sempit adalah seseorang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen. Kedua pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan dalam waktu relative lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil dalam melaksanakannya dalam mengajar.
Seorang pendidik yang akan dibahas penulis disini adalah seorang guru. Dalam penyusunan makalah ini akan dibahas lebih jelas tentang pengertian kode etik dan profesionalisme guru, macam-macam kode etik guru, dan aspek profesionalisme guru.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Setelah mengetahui latar belakang penulisan makalah ini diatas, terdapat beberapa masalah yang harus dibahas lebih jelas, antara lain sebagai berikut:
1.2.1 Apa pengertian dari kode etik dan profesionalisme guru?
1.2.2 Apa saja kode etik guru ?
1.2.3 Apa saja aspek profesionalisme guru?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulisan makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui pengertian kode etik dan profesionalisme guru
1.3.2 Mengetahui macam-macam kode etik guru
1.3.3 Mengetahui aspek profesionalesme guru


KODE ETIK DAN PROFESIONALISME GURU
2.1 Pengertian Kode Etik dan Profesionalisme Guru
Istilah kode etik itu terdiri dari dua kata, yakni kode dan etik. Kata etik berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak, adab, atau cara hidup. Sehingga etik dapat diartikan ”menunjukkan cara berbuat yang menjadi adat, karena persetujuan dari kelompok manusia”. Istilah kode ialah sistem nilai-nilai yang biasanya dikaji oleh etik itu sendiri, maka terwujud apa yang disebut kode etik itu. Secara harfiah, kode etik berarti sumber etik. Sedangkan etika artinya tata susila atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa istilah kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan. Menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.
Sedangkan istilah profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni noleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan ketrampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989). Profesi adalah suatu pekerjaan jabatan yang menuntut keahlian tertentu, artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui npendidikan dan pelatihan secara khusus. Sedangkan profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Jadi, profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.
Profesionalisme guru mempunyai makna penting, yaitu:
a. profesionalisme guru memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum
b. profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat
c. profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya.
2.2 Kode Etik Guru
Guru sebagai tenaga professional perlu memilki kode etik guru dan menjadikannya sebagai pedoman yang mengatur pekerjaan guru selama dalam pengabdian. Kode etik guru ini merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Bila guru telah melakukan perbuatan asusila amoral berarti guru telah melanggar kode etik guru, sebab kode etik guru ini sebagai salah satu cirri yang harus ada pada profesi guru itu sendiri.
Mengenai kode etik guru, penulis membahas guru di Negara Indonesia. Berikut ini akan dikemukakan kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta. Antara lain sebagai berikut:
a. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
b. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing-masing.
c. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
d. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
e. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
f. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
g. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
h. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
i. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari semua sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. Hampir semua guru telah menaati peraturan perundang-undangan dan kedinasan, akan tetapi masih banyak yang mengembangkan profesinya secara kontinu dan ikut memelihara serta memajukan mutu organisasi profesi.
2.3 Aspek Profesionalisme Guru
Guru profesional adalah guru yang mengenal dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk atau dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tidak mungkin tahan dan bangga menjadi guru, padahal hal itu adalah langkah menjadi guru yang professional.
Guru yang professional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, membedah aspek profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.
Menurut Soedijarto kemampuan professional guru meliputi:
a. Merancang dan merencanakan program pembelajaran
b. Mengembangkan program pembelajaran
c. Mengelola pelaksanaan program pembelajaran
d. Menilai proses dan hasil pembelajaran
e. Mendiagnosis factor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran.
Untuk dapat dikuasainya lima kemampuan professional tersebut diperlukan pengetahuan dasar dan pengetahuan professional, seperti pengetahuan tentang; perkembangan dan karakteristik peserta didik; disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran; konteks social, budaya, politik, dan ekonomi tempat sekolah beroperasi; tujuan pendidikan; teori belajar, baik umum maupun khusus; teknologi pendidikan yang meliputi model belajar dan mengajar; dan sistem evaluasi proses dan hasil belajar (Soedijarto, 2005).
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:
a. Menguasai bahan
 Menguasai bahan mata pelajaran dan kurikulum sekolah
 Menguasai bahan pendalaman atau aplikasi pelajaran
b. Mengelola program belajar mengajar
 Merumuskan tujuan instruksional
 Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
 Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat
 Melaksanakan program belajar mengajar
 Mengenal kemampuan anak didik
 Merenanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
c. Mengelola kelas
 Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
 Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi
d. Menggunakan media sumber
 Mengenal, memilih, dan menggunakan media
 Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
 Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar
 Mengembangkan laboratorium
 Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar
e. Menguasai landasan kependidikan
f. Mengelola interaksi belajar mengajar
g. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
h. Mengenal fungsi dan program pelayanan BK
 Menyelenggarakan program layanan BK di sekolah
i. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
 Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah
 Menyelenggarakan administrasi sekolah
j. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran


PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Pengertian Kode Etik Dan Profesionalisme Guru
kode etik guru ialah sebagai aturan tata susila keguruan. Menurut Westby Gibson, kode etik guru dikatakan sebagai suatu statemen formal yang merupakan norma (aturan tata susila) dalam mengatur tingkah laku guru.
, profesionalisme guru adalah merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.
3.1.2 Kode Etik Guru
Kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada tanggal 21-25 November 1973 di Jakarta. Antara lain sebagai berikut:
j. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
k. Guru memiliki kejuruan professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing-masing.
l. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
m. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
n. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
o. Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
p. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
q. Guru secara hukum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
r. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.

3.1.3 Aspek Profesionalisme Guru
Dari sumber lain, kemampuan dasar profesionalisme guru antara lain sebagai berikut:
a. Menguasai bahan
b. Mengelola program belajar mengajar
c. Mengelola kelas
d. Menggunakan media sumber
e. Memahami prinsip-prinsip dan mentafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran
f. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
g. Menguasai landasan kependidikan
h. Mengelola interaksi belajar mengajar
i. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
j. Mengenal fungsi dan program pelayanan BK



DAFTAR PUSTAKA
Kunandar. 2008. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses Dalam sertifikasi Guru . Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT RENIKA CIPTA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih Atas Partisipasinya