S e l a m a t D a t a n g P a r a T a m u T a k D i U n d a n g !!!!
Loading...

Orientasi Dan Ruang Lingkup BK Di Sekolah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
Bimbingan dan konseling juga haruslah dikenalkan kepada setiap peserta didik sejak dini dan karena layanan bimbingan dan konseling ini haruslah diperkenalkan kepada saat yang tepat dan jangan sampai menjadi salah sasaran. Dalam hal ini pula cakupan bimbingan dan konseling haruslah sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan bimbingan dan konseling ini. Karena dalam kehidupan di sekolah sering terjadi pemahaman yang salah tentang bimbingan dan konseling dimata para pendidik maupun peserta didik itu sendiri yang notabennya menjadi objek kajian bimbingan dan konseling
Oleh karena itu, dalam upaya memberikan pemahaman tentang orientasi dan ruang lingkup yang harus di capai bimbingan dan konseling, melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang orientasi atau pengenalan dan ruang ingkup bimbingan dan konseling.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian Orientasi Bimbingan Konseling ?
2. Apa macam-macam Orientasi ?
3. Apa ruang lingkup Bimbingan Konseling
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat dicapai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian Orientasi Bimbingn Konseling
2. Untuk mengetahui macam-macam Orientasi.
3. Untuk mengetahui ruang lingkup Bimbingan Konseling.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Orientasi Bimbingan Konseling

Orientasi yang di maksud di sini ialah “pusat perhatian” atau “titik berat pandangan”. Misalnya, seseorang yang berorientasi ekonomi dalam pergaulan, maka ia akan menitikberatkan pandangan atau memusatkan perhatiannya pada perhitungan untung rugi yang dapat di timbulkan oleh pergaulan yang ia adakan dengan orang lain; sedang kan orang yang berorientasi agama akan melihat pergaulan itu sebagai lapangan tempat dilangsungkannya ibadah menurut ajaran agama.
Hasil yang diharapkan dari layanan orientasi ialah dipermudahynya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan kegiatan lain yangf mendukung keberhasilan sisiwa. Demikian juga orang tua siswa, dengan memahami kondisi, situasi dan tuntutan sekolah anaknya akan dapat memberikan dukungan yang diperlukan bagi keberhasilan belajar anaknya.

B. Macam-Macam Orientasi
1. Orientasi Perseorangan
Orientasi perorangan “bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandang pada sisiwa secara individual. Satu persatu siswa perlu mendapat perhatian, pemahaman konselor yang baik terhadap keseluruhan siswa sebagai kelompok dalam kelas itun penting juga , tetapi arah pelayanan dan kegiatan bimbingan diajukan kepada masing-masing siswa, kondisi keseluruhan (kelompok) siswa itu merupakan konfigurasi (bentuk keseluruhan) yang dampak positif dan negatifnya terhadap siswa secara individual harus diperhitungkan.
Kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling dapat dicatat sebagai berikut:
a. Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan kopnseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi saasaran layanan.
b. Pelayanan binmbingan dan kopnselingt meliputu kegiatan berkenaan denga individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhannya, motivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampua potensinya, yang semuanya unik, serta membantu individu agar sdapat mengharagai kebutuhan, motivasi, dan potensinya itu kea rah pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-sebesarnya bagi diri dan lingkungan.
c. Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individu (Rogers, dalam Mc Daniel, 1956 ).
d. Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan klien serta yang menyesuaikan program0program layanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin. Dalam hal itu, penyelenggaraan program yang sistematis untuk mempelajari individu merupakan dasra yang tak tereklakan bagi berfungsinya program bimbingan,(McDaniel, 1956).
2. Orientasi Perkembangan
Ivey dan Rigazio Digilio (dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan cirri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Perkemmbangan merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan dari segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa, praktek bimbingan dan konseling tidak lain adalah memberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan yang berkelanjutan.
Secara khusus, Thompson dan Rudolph (1983) melihat perkembangan individu dari sudut perkembangan kognisi. Dalam perkembangannya, anak-anak berkemungkinan mengalami hambatan perkembangan kognisi dalam empat bentuk:
a. Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemingkinan laindi luar apa yang dipahami.
b. Hambatan konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang suatu hal.
c. Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbaik dari luar yang dipahami semula.
d. Hambatan tranformasi, yaitu ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan yang ditetetapkan.
3. Orientasi Permasalahan
Orientasi masalah secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengetasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengetasan menginginkan individu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya.
Jenis masalah yang (mungkin) diderita oleh individu amat berpariasi. Roos L. Mooney (dalam prayitno, 1987) mengidentifikasikan 330 masalah yang digolongkan kedalam sebelas kelompok masalah, yaitu kelompok masalah yang berkenaana dengan:
a. Perkembangan jasmani dan kesehatan (PJK)
b. Keuangan, keadaan lingkungan, dan pekerjaan (KLP)
c. Kegiatan sosial dan reaksi (KSR)
d. Hubungan muda-mudi, pacaran dan perkawinan (HPP)
e. Hubungan sosial kejiwaan (HSK)
f. Keadaan pribadi kejiwaan (KPK)
g. Moral dan agama (MDA)
h. Keadaan rumah dan keluarga (KRK)
i. Masa depan pendidikan dan pekerjaan (MPP)
j. Penyesuian terhadap-terhadap tugas sekolah (PTS)
k. Kurikilum sekolah dan prosedur pengajaran. (KPP)
Frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut juga bervariasi. Satu jenis masalah barangkali lebih banyak dialami, sedangkan jenis masalah yang lain lebih jarang muncul. Frekuensi munculnya masalah-masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi lingkungan.

C. Ruang Lingkup Bimbingan Konseling

Secara formal, terdapat empat bidang yang menjadi ruang lingkup garapan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pesekolahan saat ini, yaitu :
1. Bidang pelayanan kehidupan pribadi; membantu individu menilai kecakapan, minat, bakat, dan karakteristik kepribadian diri sendiri untuk mengembangkan diri secara realistik.
2. Bidang pelayanan kehidupan sosial; membantu individu menilai dan mencari alternatif hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya atau dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Bidang pelayanan kegiatan belajar; membantu individu dalam kegiatan dalam rangka mengikuti jenjang dan jalur pendidikan tertentu dan/atau dalam rangka menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu.
4. Bidang pelayanaan perencanaan dan pengembangan karier; membantu individu dalam mencari dan menetapkan pilihan serta mengambil keputusan berkenaan dengan karier tertentu, baik karier di masa depan maupun karier yang sedang dijalaninya.
Bimbingan konseling, tujuan utama pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yaitu untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek sosial pribadi, pendidikan dan karir sesuai dengan tuntutan lingkungan dan masyarakat, ada beberapa bidang garapan dari bimbingan dan konseling ini, bidang bimbingan yang akan diberikan meliputi tiga bidang garapan, yakni :
1. Bimbingan sosial pribadi yang memuat layanan bimbingan yang bersentuhan dengan :
• Pemahaman diri.
• Mengembangkan sikap positif
• Membuat pilihan kegaiatan secara sehat
• Menghargai orang lain
• Mengembangkan rasa tanggungjawab
• Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
• Keterampilan menyelesaikan masalah
• Membuat keputusan secara baik
2. Bimbingan Pengembangan Pendidikan, memuat layanan yang berkenaan dengan :
• Belajar yang benar
• Menetapkan tujuan dan rencana pendidikan
• Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannyaKeterampilan untuk menghadapi ujian
3. Bimbingan pengembangan karier, meliputi :
• Mengenali macam-macam dan ciri-ciri berbagai jenis pekerjaan
• Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan
• Mengeksplorasi arah pekerjaan
• Menyesuaikan keterampilan, kemampuan dan minat dengan jenis pekerjaan
Adapun menurut para ahli, layanan Bimbingan dan Konseling meliputi empat bidang garapan, seperti yang dikemukakan oleh Muro dan Kottman (Ahman, 1998 ; 2530) yakni :
1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupannya, dengan muatan materi yakni
• Self Esteem
• Motivasi berprestasi
• Keterampilan pengambilan keputusan, merumuskan tujuan dan membuat perencanaan
• Keterampilan pemecahan masalah
• Kefektifan dalam hubungan antar pribadi
• Keterampilan berkomunikasi
• Keefektifan dalam memahami lintas budaya
• Prilaku yang bertanggungjawab
2. Layanan Responsif
Layanan ini bertujuan untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial pribadi dan karier atau masalah perkembangan pendidikan, muatan materinya mencakup :
• Kesuksesan akademik
• Kenakalan anak
• Masalah putus sekolah
• Kehadiran
• Sikap dan prilaku terhadap sekolah
• Hubungannya dengan teman sebaya
• Keterampilan studi
• Penyesuaian di sekolah baru
3. Sistem Perencanaan Individual
Tujuan layanan ini adalah membantu siswa untuk merencanakan, memonitor dan mengelola rencana pendidikan, karir dan pengembangan sosial pribadi oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, melalui sistem perencanaan individual siswa dapat:
• Mempersiapkan pendidikan, karir, tujuan sosial pribadi yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
• Merumuskan rencana untuk mencapai tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan tujuan jangka panjang.
• Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya
• Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya
• Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya
4. Sistem Pendukung
Komponen sistem pendukung lebih diarahkan kepada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung bermanfaat bagi siswa. Layanan ini mencakup:
• Konsultasi dengan guru-guru
• Dukungan bagi program pendidikan orang tua dan upaya-upaya masyarakat
• Partisipasi dalam kegiatan sekolah bagi peningkatan perencanaan dan tujuan
• Implementasi dan program standarisasi instrumen tes
• Kerja sama dalam melaksanakan riset yang relevan
• Memberikan masukan terhadap pembuat keputusan dalam kurikulum pengajaran, berdasarkan perspektif siswa

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
A. Pengertian Orientasi
Orientasi yang di maksud di sini ialah “pusat perhatian” atau “titik berat pandangan”. Misalnya, seseorang yang berorientasi ekonomi dalam pergaulan, maka ia akan menitikberatkan pandangan atau memusatkan perhatiannya pada perhitungan untung rugi yang dapat di timbulkan oleh pergaulan yang ia adakan dengan orang lain; sedang kan orang yang berorientasi agama akan melihat pergaulan itu sebagai lapangan tempat dilangsungkannya ibadah menurut ajaran agama.

B. Macam-Macam Orientasi
1. Orientasi Perorangan
Orientasi perorangan “bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandang pada sisiwa secara individual. Satu persatu siswa perlu mendapat perhatian, pemahaman konselor yang baik terhadap keseluruhan siswa sebagai kelompok dalam kelas itun penting juga , tetapi arah pelayanan dan kegiatan bimbingan diajukan kepada masing-masing siswa, kondisi keseluruhan (kelompok) siswa itu merupakan konfigurasi (bentuk keseluruhan) yang dampak positif dan negatifnya terhadap siswa secara individual harus diperhitungkan.
2. Orientasi Perkembangan
Ivey dan Rigazio Digilio (dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan cirri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Perkemmbangan merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan dari segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa, praktek bimbingan dan konseling tidak lain adalah memberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan yang berkelanjutan.

3. Orientasi Permasalahan
Orientasi masalah secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengetasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengetasan menginginkan individu yang sudah terlanjur mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya.

C. Ruang Lingkup BK
Secara formal, terdapat empat bidang yang menjadi ruang lingkup garapan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks pesekolahan saat ini, yaitu :
1. Bidang pelayanan kehidupan pribadi; membantu individu menilai kecakapan, minat, bakat, dan karakteristik kepribadian diri sendiri untuk mengembangkan diri secara realistik.
2. Bidang pelayanan kehidupan sosial; membantu individu menilai dan mencari alternatif hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya atau dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
3. Bidang pelayanan kegiatan belajar; membantu individu dalam kegiatan dalam rangka mengikuti jenjang dan jalur pendidikan tertentu dan/atau dalam rangka menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu.
4. Bidang pelayanaan perencanaan dan pengembangan karier; membantu individu dalam mencari dan menetapkan pilihan serta mengambil keputusan berkenaan dengan karier tertentu, baik karier di masa depan maupun karier yang sedang dijalaninya.

DAFTAR PUSTAKA

http://yogiagustina.blogspot.com/2010/11/orientasi-dan-ruang-lingkup-bpbk.html
http://cybermovix.blogspot.com/2010/12/orientasi-dan-ruang-lingkup-kerja.html
Halen. 2005. Bimbingan Dan Konseling. Jakarta : Quantum Teaching

Dewa Ketut Sukardi. 2002. Bimbingan Dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta

1 komentar:

  1. asslm
    maaf mau sekedar saran aja ini
    tampila blogya kurang menarik terkesan terlalu rame. kalau bisa itu titi-titik dan garis jagan meghalangi tulisan karena ka kebaca tulisannya (kurang Jelas) Opacity pada titik-titik dan garis nya di kurangin jagan 100 % coba pake 10-20 % (buram sedikit)

    BalasHapus

Terima kasih Atas Partisipasinya